Minggu, 24-10-2021
  • Assalamu alaikum Selamat Datang di Website SMA Al Muhajirin Purwakarta dengan Visi : "Menjadi Sekolah Unggulan Berbasis Integrasi Ilmu di Tahun 2025".

Optimalisasi Peran Agen Sosialisasi Dalam Menciptakan Generasi Bebas Narkoba

Diterbitkan : - Kategori : Artikel / Esai


Narkoba menjadi kata yang familiar ketika kita membicarakankenakalan remaja. Mengonsumsi narkoba menjadi pelarian remaja-remaja yang terjerat pergaulan bebas. Kondisi yang memprihatinkan denganpersentase angka pengonsumsi narkoba yang meningkat, terutama ketika munculnya virus corona hingga menjadi pandemik. Dilansir dari lamanGatra.com, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan hingga April 2021,sebanyak 422 kasus narkotika berhasil diungkap. Jumlah kasus tersebut setara dengan 1,9 ton bruto narkotika.Ada banyak alasan para remaja terjerat kasus dan memilih untuk mengonsumsi narkoba.

Alasan-alasan tersebut dipengaruhi pula oleh agen sosialisasi yang sukses membuat mereka terjerumus dalam kasus narkoba. Contohnya bisa saja karena teman bermain, media massa, keluarga,ataupun konflik internal yang mereka alami. Sosialisasi kepribadian yang seimbang antara resepsif dan partisipatoris tentu menjadi sangat penting demi menjaga tahapan pertumbuhan kepribadian manusia menjadi ideal. Kasus demi kasus mengajarkan betapa telah rusaknya generasi oleh narkoba. Bahkan masa depan bangsa seolah sedang digantung oleh benang yang perlahan terpotong oleh generasinya sendiri sebagai pisaunya. Masa emas Indonesia 2045 seharusnya menjadi pacuan bagi remaja.

Namun tak dapat kita hindari bahwa memang batin seseorang itu berbeda-beda dan kurangnya pengetahuan terhadap ilmu parenting para orang tua dalam mendidik menyebabkan sang anak menjadi sosok yang tidak keluar dari norma dan nilai sosial yang berlaku di masyarakat. Sebut saja namanya Rafi (bukan nama sebenarnya). Ia teman satu kelas saya ketika duduk di bangku kelas tujuh sekolah menengah pertama.

Matanya sayu di pagi hari hingga menjelang petang. Tubuhnya kurus kering padahal uang jajannya jauh lebih banyak dari pada uang jajan saya yang tubuhnya gemuk. Ia kerap kali membuat onar di sekolah. Misalnya, ia pernah mencuri uang kas beberapa kelas, mencuri uang jajan beberapa anak, merokok dan yang lainnya. Suatu hari ketika saya mengerjakan tugas, ia tengah berbincang dengan teman saya. Saya mendengar sekilas percakapan mereka bahwa Rafi selalu menghabiskan uangnya untuk membeli obat sebagai pelarian masalah hidupnya. Meski saya tidak tahu jenis obat apa itu dan tentu hingga kini saya sudah tak saling bertukar kabar dengan teman saya itu karena ia dikeluarkan tak lama setelah ia mencuri uang kas kelas dan membagikan gambar sedang merokok di media sosialnya. Entah itu narkoba atau bukan, yang jelas segala sesuatu yang memabukkan dan diniatkan untuk sesuatu yang buruk itu adalah salah. Memang benar, ketika seseorang terjerat kasus narkoba membuat ia menghalalkan berbagai cara untuk tetap dapat mengonsumsinya.

Hasilnya, angka kriminalitas seperti mencuri, merampok, membegal, dan sebagainya pun bisa bertambah akibat nafsu yang mengharuskan mengonsumsinya lagi dan lagi. Contoh lain, penghuni rumah gubuk kecil yang berisikan tumpukan sampah sebagai alas tidur dan makan setiap harinya. Pria kurus berambut gondrong yang akalnya sudah tak sempurna lagi itu tinggal di sekitar Kavling Tugu Bekasi Timur. Siapa sangka dahulunya adalah pemilik suatu pabrik dan saudagar kaya raya di perumahan Kavling Tugu Bekasi Timur. Orang gila yang bertetanggaan dengan rumah sahabat saya itu dahulunya adalah orang yang kaya raya.

Naas, dia terjerat kasus narkoba dan terlilit hutang ia pun ditinggalkan oleh keluarganya. Seharusnya para pemuda bisa mengontrol nafsunya dengan mencoba berpikir panjang. Jauhilah narkoba karena jika saya bisa, maka kalian juga bisa. Setiap orang tentu memiliki cerita hidup yang tidak akan selalu berjalan semulus dan semau diri sendiri saja. Agen sosialisasi sangat berperan serta dalam membuat seseorang terjerumus ke dalam narkoba.

Meski awalnya hanya coba-coba namun pada akhirnya kandungan dan efek sampingnya membuat candu. Keinginan yang ditimbulan akibat agen sosialisasi media massa akan timbul ketika seseorang mendapatkan iklan di media massa. Keinginan tersebut juga dapat ditimbulkan akibat agen sosialisasi keluargatentu akan sangat berpengaruh karena bentuk sosialisasi primer terjadi dalam keluarga. Dikatakan primer karena utama dan terjadi di antara orangorang terdekat. Kondisi keluarga yang tak bisa memberikan kehangatan, tak bisa memberikan arti kata rumah yang sesungguhnya, bisa menjadi salah satu penyebab timbulnya rasa ingin mencicipi. Sebab, begitu banyak
kasus kekerasan dalam rumah tangga dan perceraian yang terjadi dan kasusnya sungguh beragam hingga terkadang keduanya dapat terjadi sekaligus pada kehidupan seseorang. Narkoba pun akhirnya sering kali menjadi tempat yang mereka anggap rumah karena memberikan kenyamanan sesaat.

Maka dari itu peran sosialisasi kepribadian juga sangat penting dalam memberantas kasus narkoba. Bagi orang tua, pengetahuan parenting yang baik akan menjadi bekal untuk mendidik anak-anak generasi penerus selanjutnya. Keluarga, terutama orang tua merupakan tempat primer untuk terjadinya sosialisasi kepribadian untuk menanamkan nilai-nilai moral, sosial, dan agama. Lantas apa itu sosialisasi kepribadian? Yaitu proses penanaman/transfer kebiasaan nilai dan norma dari satu generasi ke generasi lainnya. Pola sosialisasi sendiri dibagi menjadi 2 yang menuntut anak menjadi apa yang orang tuanya inginkan (resepsif) atau anak bebas melakukan apa yang ia inginkan (partisipatoris). Baiknya kedua pola ini dikombinasikan sehingga anak tidak akan menjadi depresi karena merasa terkekang dan masih bisa bebas mengekspresikan dirinya tanpa harus menjadi manja. Dengan demikian, peran orang tua sangat penting bagi pembentukkan mental dan karakter seorang anak. Lalu agen berikutnya adalah teman bermain (pear group). Biasanya,jika seseorang mengkonsumsi narkoba ini karena pear group maka sebelumnya ia terlebih dahulu telah terjun dalam pergaulan bebas. Artinya, hal ini ini terjadi ketika seorang telah memasuki kelompok bermain yang salah.

Selain peran dari agen sosialisasi, terdapat faktor yang muncul dari dalam diri remaja, contohnya depresi dan masalah internal. Masalah yang dihadapi remaja mungkin cukup beragam mulai dari masalah keluarga, tuntutan akademik dan nonakademik, hingga masalah percintaan tentu silih berganti melewati kehidupan mereka. Namun kembali lagi, jika kita memiliki agen sosialisasi yang baik disertai dengan pola sosialisasi yang baik akan membuat batin kita sebagai remaja mampu menahan segala cobaan sehingga narkoba tentu tak akan ada di hidup kita.
Faktor yang disebutkan di atas tentu bisa membuat seseorang melakukan masalah sosial yang lain seperti berbagai perilaku menyimpang lainnya. Maka dari itu jika kita berantas akar masalahnya maka berbagai macam perilaku menyimpang juga akan ikut berkurang. Di sini tentu peran pendidikan. Pendidikan tidak selalu tentang pendidikan formal (sekolah).

Pendidikan yaitu segala pengalaman belajar yang menjadi sebuah pengetahuan dalam lingkungan dan sepanjang hidup kita. Pengetahuan dapat berupa pengetahuan biasa, pengetahuan ilmu, filsafat, dan agama.
Pengetahuan-pengetahuan tersebut bisa kita dapatkan dari tiga lembaga pendidikan, yaitu pendidikan formal seperti sekolah. Pendidikan informal seperti mengaji, kursus dan lainnya. Terakhir yaitu pendidikan nonformal yang biasanya didapatkan dari lingkungan sekitar dan keluarga. Salah satu contoh lembaga yang memenuhi pengetahuanpengetahuan dan lengkap dengan pendidikan karakternya adalah pondok pesantren. Bahkan manfaat yang harusnya kita dapatkan dari 3 lembaga pun bisa kita dapatkan hanya pada 1 lembaga. Di pesantren anak diajarkan bagaimana mengelola waktu dengan baik, mengelola uang, dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Sehingga ia terbiasa mengontrol emosi dan berkata “tidak” terhadap keinginannya yang sifatnya hanya membahagiakan jangka waktu pendek. Di pesantren bukan sekadar dididik tetapi juga dibimbing. Mengkaji ilmu-ilmu tasawuf dan akhlak untuk mengendalikan sikap, perkataan, hati, emosi dan mental. Setiap hari membaca kalam Allah SWT sebagai pelembut hati. Ilmu-ilmu umum juga didapatkan oleh anak jika bersekolah di model pesantren modern. Juga dengan kemampuan-kemampuan tambahan yang dikembangkan sehingga kita punya skill tambahan seperti memasak, membuat kerajinan tangan dan lainnya melalui ekstrakulikuler.

Lingkungan yang mendukung juga akan mempengaruhi kepribadian kita karena pola sosialisasi yang bisa dibilang
paket komplit. Dengan demikian pesantren menjadi agen sosialisasi yang baik untuk membentuk karakter dan mencegah para remaja terjerumus dalam kasus narkoba. Di samping mengajarkan ilmu umum, pesantren modern juga lebih menekankan pada pendidikan agama. Pemahaman terhadap agama menjadi sangat penting dalam memberantas masalah narkoba. Mengkaji ilmu tasawuf atau ilmu mengendalikan hati dan akhlak sangat membantu dalam menjaga diri kita dari terjerumus ke dalam hal-hal yang menyimpang dari nilai dan norma sosial. Tentu ibadah juga mencegah kita dalam perbuatan maksiat. Sehingga peran kedekatan dengan Tuhan menjadi sangat penting dalam mengatasi masalah ini. Maka peran lembaga pesantren dirasa sangat cocok untuk membantu memberantas masalah narkoba karena memiliki paket pendidikan yang lengkap.Harapan Indonesia emas 2045 tentu harus kita wujudkan. Telah banyak pemuda hebat yang tidak berlatar belakang dari keluarga hebat ikut berpartisipasi dalam gerakan ini. Bagaimanapun masalah yang remaja Indonesia hadapi, ketahuilah kita semua masih punya harapan yang lebih baik lagi, maka marilah hentakkan kaki dan katakkan, “Kami akan lari menuju masa depan Indonesia secerah mentari”. Harapan ini akan sulit terwujud apabila tidak terjalin kerja sama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peran agen sosialisasi sangat penting dalam membantu pemerintahuntuk mencegah penyebaran narkoba di kalangan remaja. Maka mari ciptakan agen sosialisasi yang baik untuk lingkungan kita mualai dari diri kita sendiri. Dengan mengoptimalkan peran agen sosialisasi dan bergerak bersama, kita dapat mewujudkan generasi bebas narkoba.

ditulis oleh Putrianti Adinda Salsabila dari SMAS AL-MUHAJIRIN 
KAMPUS PUSAT, PURWAKARTA
Gambar sumber dari : Canva

Post Terkait

Tumbuhan Penyambung Hidup

Selasa, 19 Okt 2021

Senyummu Makna Hidupmu

Jumat, 21 Mei 2021

Kenapa Kamu Berpikir?

Kamis, 15 Apr 2021

Pertanian di Era Modern

Jumat, 2 Apr 2021

Pandemi Obesitas

Jumat, 19 Mar 2021

Batu di Dasar Laut?

Kamis, 11 Feb 2021