Senin, 29-11-2021
  • Assalamu alaikum Selamat Datang di Website SMA Al Muhajirin Purwakarta dengan Visi : "Menjadi Sekolah Unggulan Berbasis Integrasi Ilmu di Tahun 2025".

Dilema Belajar Daring di Masa Pandemi

Diterbitkan : - Kategori : Artikel / Esai

Pandemi Covid-19 sampai saat ini masih terus melanda dunia termasuk di Indonesia. Ketika negara-negara lain seperti Australia sudah mulai kembali normal, negara Indonesia malah sebaliknya. Pada bulan Desember 2020 pasien positif Covid-19 di Indonesia mencapai 623.309 kasus. Banyak sekali upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 ini.

 Pemerintah mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tetap di rumah saja. Peserta didik belajar dari rumah, karyawan ataupun pekerja yang dapat berkerja dari rumah pun saat ini dihimbau untuk tetap bekerja dari rumah. Hal ini sudah diingatkan dalam Al-Qur’an untuk tinggal di rumah saat ada bahaya, yaitu dalam surah An-Naml ayat 18, “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut, ‘hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. (QS. An-Naml: 18) Maka dari itu haruslah kita belajar dari semut. Ketika datang bahaya pada kaumnya dia berkata pada mereka, masuklah ke dalam rumah-rumah kalian.

Begitu cepatnya penyebaran wabah ini membuat banyak upaya yang dilakukan oleh negara untuk menghambat penyebaran virus. Bukan hanya perekonomian tetapi dunia pendidikan pun terhambat. Berdasarkan kebijakan menteri pendidikan dan kebudayaan tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Covid-19, memberi himbauan bahwa pelaksanaan pembelajaran dilakukan dari rumah melalui pembelajaran daring (dalam jaringan).

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran dari rumah biasanya dilakukan dengan menggunakan media pembelajaran daring seperti Telegram, Google Classroom, Grup Whatsapp, Line, dan Zoom. Dengan aplikasi-aplikasi tersebut pendidik berusaha menyampaikan materi kepada peserta didik.

  Kelebihan pelajaran daring ini tidak terikat ruang dan waktu. Sehingga di mana saja peserta didik berada dia tetap bisa mengikuti pembelajaran tersebut. Selain itu jika diberikan pembelajarannya melalui rekaman peserta didikpun dapat memutar rekaman pembelajaran tersebut berulang kali sampai ia memahami pembelajaran tersebut.

 Pada kenyataannya, kegiatan pembelajaran melalui jaringan ini tidak mudah diterapkan di Indonesia. Banyak keterbatasan dan permasalahan yang ditemukan di lapangan, baik itu dari segi pendidik maupun peserta didik. Di antaranya dari segi pendidik yaitu sebagian besar belum memiliki kemampuan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang mereka punya, bahkan di daerah terpencil atau pelosok banyak pendidik yang masih awam dengan internet. Begitupun dengan peserta didik, tidak semua peserta didik memiliki smartphone untuk mengakses materi pembelajaran karena tidak semua peserta didik berasal dari keluarga yang mampu untuk membeli kuota internet setiap waktu.

Kita semua tahu bahwa Indonesia adalah negara yang sangat luas dari Sabang sampai Merauke. Ada yang tinggal di kota dan ada juga yang tinggal di daerah pedalaman, mereka yang tinggal di daerah pedalaman sebelum berbicara internet terkadang listrik pun belum ada. Oleh karena itu, pembelajaran jarak jauh ini banyak sekali kendalanya, tidak tepat sepertinya apabila kebijakan pembelajaran dari rumah atau daring ini diterapkan untuk semua kalangan dengan berbagai latar belakang.

Kebijakan pemerintah mengambil pembelajaran dari rumah ini merupakan kebijakan yang bagus untuk mencegah penyebaran virus lebih luas sekaligus memanfaatkan kecanggihan teknologi saat ini. Akan tetapi, melihat kenyataan untuk sekolah-sekolah yang berada di daerah pedesaan yang diprediksi tidak ada penyebaran virus di sana atau zona hijau, sebaiknya diizinkan untuk tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka di sekolah atau bisa juga dikelompokkan mana peserta didik yang mampu mengikuti pembelajaran secara online dan mana peserta didik yang tidak bisa mengikuti pembelajaran secara online. Setelah mendapatkan kelompok tersebut maka yang tidak dapat mengikuti pembelajaran secara online diizinkan untuk bertatap muka di sekolah dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan seperti 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan). Baik pendidik maupun pesreta didik diwajibkan untuk memakai masker. Pengaturan tempat duduk peserta didik untuk menjaga jarak dan dibatasi missal dalam satu kelas itu hanya boleh maksimal sepuluh peserta didik, dan sebelum memasuki kelas baik pendidik maupun peserta didik wajib mencuci tangan, dengan demikian diharapkan pembelajaran tetap dilaksanakan dengan baik, baik secara online maupun tatap muka.


Adzkia Nurfadilah, 12 IPA2
image ref from : canva
Tag : ,