Kamis, 28-10-2021
  • Assalamu alaikum Selamat Datang di Website SMA Al Muhajirin Purwakarta dengan Visi : "Menjadi Sekolah Unggulan Berbasis Integrasi Ilmu di Tahun 2025".

Batu di Dasar Laut?

Diterbitkan : - Kategori : Esai

Banyak sekali sumber kehidupan manusia yang mulai terkikis seiring dengan berkembangnya zaman. Di antaranya yaitu sumber alam yang berada di laut dan darat, baik tumbuhan maupun hewan. Salah satunya adalah terumbu karang yang berguna bagi makhluk hidup yang ada di laut. Masih saja ada orang yang mengira terumbu karang adalah batu. Sangat disayangkan. Alhasil, tak diherankan lagi kalau ada orang yang kurang paham mengenai terumbu karang, manfaatnya, penyebab-penyebab kerusakan dan bagaimana mengatasi kerusakannya. Sehingga ketidakpahaman tersebut membuat orang tidak merasa terumbu karang perlu dijaga.

Sebenarnya terumbu karang merupakan mahkluk yang hidup yang digolongkan sebagai hewan. Ada juga yang mengatakan bahwa terumbu karang adalah kumpulan dari binatang karang yang melakukan simbiosis. Simbiosis yang dilakukan tumbuhan alga atau disebut zooxanthellae.

Terumbu karang bermanfaat sebagai habitat dan sumber makanan bagi berbagai jenis mahkluk hidup di laut. Di sini banyak berbagai jenis mahkluk hidup yang tinggal, mencari makan, berlindung, dan berkembang biak. Terumbu karang merupakan habitat utama bagi ribuan spesies yang hidup di laut, mulai dari hewan rendah hingga hewan tingkat tinggi. Bisa dikatakan terumbu karang adalah gudang keanekaragaman hayati yang ada di laut. Terumbu karang inilah sebagai besar spesies laut berbagai macam aktivitasnya mulai dari mencari makanan, perkembangan biakan dan aktivitas lainnya. Sehingga, terumbu karang sangat penting bagi biota dan ekosistem sekitarnya.

Terumbu karang memiliki sumber keanekaragaman hayati yang tinggi. Dengan tingginya keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya, terumbu karang ini menjadi sumber keanekaragaman genetik dan spesis yang ditemukan hidup yang lebih tinggi. Terumbu karang dapat bermanfaat sebagai pelindung ekosistem yang ada di sekitarnya. Sama seperti fungsi hutan bakau yang melindungi pantai dan daerah pesisir dari ombak besar.

Terumbu karang dapat memperkecil ombak yang menuju ke daratan yang dapat menyebabkan pantai dan kerusakan sekitarnya. Di sisi lain, terumbu karang dapat menyebabkan pemanasan global yang terjadi dengan adanya peroses kimia yang dilakukan oleh terumbu karang dan zooxanthellae. Proses kimia tersebut adalah proses perubahan gas CO2 menjadi zat kapur yang merupakan bahan pembentukan terumbu karang.

Terumbu karang memerlukan waktu yang lama untuk tumbuh menjadi terumbu karang yang sejati. Waktu yang diperlukan untuk terbentuknya satu terumbu karang hingga ratusan tahun. Namun sekarang banyak informasi yang beredar tentang kerusakan terumbu karang yang semakin parah. Dalam dekade terakhir sekitar 35 juta terumbu karang di 93 negara mengalami kerusakan. Ketika terumbu karang mengalami stres akibat temperatur air laut yang yang meningkat, sinar unltraviolet dan perubahan lingkungan lainnya maka ia akan kehilangan sel alganya. Seperti biasa ini disebabkan oleh tangan-tangan jahil manusia. Ternyata terumbu karang juga dapat mengalami stres jika lingkungannya tergantung dan tak lagi bersahabat.

Kebanyakan terumbu karang rusak oleh pengguna bahan peledak dan obat-obatan untuk mencari ikan, dan pengambilan karang untuk kepentingan pembangunan dan juga aktivitas pariwisata yang tinggi memperhatikan kelestarian lingkungan. Selain itu, karena kemiskinan masyarakat sekitar pantai menyebabkan mereka berinisiatif untuk menjual terumbu karang. Hal ini memang tidak akan menjadi permasalahan besat bagi orang awan sekitar pantai. Mereka akan merasakan akibatnya jika ekosistem laut mulai menurun. Di Al-Qur’an sudah diterangkan suah Al-Baqarah[2]: 11-12 yang artinya, “Dan bila dikatakan kepada meraka, ‘janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi’, mereka menjawab, ‘sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan tetapi mereka tidak menyadarinya.

                Sebenarnya, untuk mengatasi terumbu karang ini hanya diperlukan kesadaran masyarakat luas tentang dampak yang ditimbulkan bila terumbu karang itu punah. Nyatanya memang sangat sulit untuk mengajak masyarakat daerah pantai ikut serta mengelola pelestarian terumbu karang, manusia sering kali berpikir instan untuk mencari kenikmatan dengan cara singkat supaya kepentingan pribadi tanpa berpikir dampak terjadi setelahnya. Satu ekosistem rusak akan mempengaruhi kerusakan yang lainnya. Jika semua ekosistem di bumi rusak satu per satu, siapa yang dapat dipermasalahkan sedangkan mahkluk hidup saling ketergantungan satu dan lainnya termasuk manusia. Maka sudah saatnya melibatkan semua pihak untuk menjaga terumbu karang dengan baik demi kepentingan bersama.