Senin, 29-11-2021
  • Assalamu alaikum Selamat Datang di Website SMA Al Muhajirin Purwakarta dengan Visi : "Menjadi Sekolah Unggulan Berbasis Integrasi Ilmu di Tahun 2025".

Manajemen Stres dalam Pandangan Islam & Medis

Diterbitkan : - Kategori : Artikel / Esai

Ada kalanya manusia merasa bosan atau tidak puas dengan apa yang diinginkannya atau merasa kecewa dengan kenyataan yang terjadi ketika tidak sesuai dengan harapannya. Padahal, setiap insan diciptakan dengan memiliki akal luar biasa dan imajinasi yang luas. Namun, justru tidak banyak orang yang menggunakan akal pikirannya untuk bertafakur dengan apa yang diciptakan-Nya.

Katanya, akal yang sehat akan memicu pada jiwa yang sehat juga, seakan-akan tubuh kita merespon bahwa tindakan tersebut baik atau tidak baik. Mereka yang percaya terhadap teori ini menganggap semua perlakuannya baik dan tidak akan merugikan banyak orang. Di sisi lain, banyak sekali orang yang kesusahan karena sikap buruk yang mereka lakukan. Merasakan kesusahan ini membuat perasaan tertekan atau stres.

Stres merupakan kondisi yang berpengaruh pada kehidupan manusia. Setiap individu tidak akan terlepas dari namanya stres, karena stres sangat erat dengan gaya hidup, perwatakan seseorang, faktor keluarga, proses urbanisasi, bahkan karena perkembangan zaman pun seseorang bisa mengalami stress.

Menurut Uthman Najati (1992), manusia mengalami gangguan dan ketidaktenteraman jiwa apabila berlakunya konflik psikis antara dua jiwa manusia yaitu jiwa yang beriman kepada Sang Maha Bijaksana dan jiwa yang mengikuti ajakan hawa nafsu. Sehingga tidak mengherankan The American Medical Association mencatat bahwa stres menjadi penyebab dasar dari 60% timbulnya penyakit manusia dan komplikasi, seperti psikosis dan anoreksia.

  Hampir setiap sistem tubuh manusia terlibat dalam perubahan fisikal yang timbul akibat stres, semisalnya saja ketika seseorang mengalami trauma akibat suatu peristiwa tertentu, hal ini akan menggangu pada perkembangan psikologis dirinya, seperti penderita Anhedonia yaitu ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan.

Keadaan jiwa yang stres telah digambarkan pula dalam kisah anak Nabi Adam AS yaitu Qabil yang telah membunuh saudara kandungnya sendiri, Habil, hanya karena ketidakpuasan atas keputusan ayahnya menjodohkan mereka dengan secara persilangan antara saudara kembarnya masing masing yaitu antara Iqlimiya dan Layudha.

Awalnya, stres muncul di sumbu Hipotalamus Pituitary Adrenal (HPA), tempat terjadi interaksi antara kelenjar endokrin di otak dan ginjal. Hal ini dapat mengendalikan tubuh untuk merespon stres. Misalnya saja saat otak mendeteksi situasi stres, sumbu HPA langsung mengaktifkan dan melepaskan hormon kortisol.

Selain itu stres dapat maningkatkan aktivitas pada koneksi saraf di amygdala (pusat rasa takut di otak) yang tempat hal ini dapat menimbulkan naiknya kadar kortisol, sedangkan apabila kadar kortisol yang terlalu tinggi dalam jangka waktu yang lama akan memberikan efek tertentu di otak.

Sedangkan, fakta medis mengunggkapkan bahwa, hormon kortisol dapat membentuk energi dan mengendalikan stres, juga dipercaya dalam mempertahankan tekanan darah normal, menurunkan peradangan, mengendalikan kadar gula darah dengan melepaskan insulin, dan dapat mengendalikan daya ingat.

Islam mengenalkan stres dalam kehidupan kita sebagai cobaan. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, surah Al-Baqarah: 155 yang berbunyi,

ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الاموال والانفس والثمرات  وبشر الصبرين

 “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Jiwa rasional manusia memiliki dua daya dalam tubuh manusia yaitu, daya akal praktis dan daya akal teoretis. Sedangkan dalam dirinya, manusia memiliki beberapa hawa nafsu yang menjadi kebiasaan di dalam masyarakat, seperti nafsu amarah, lawamah, marhamah, mutmainnah, raudhiyah, kamaliyah, dan mardhiyah.

Shalat menjadi salah satu solusi untuk menghilangkan stres yang paling ampuh di antara yang lainnya. Setiap gerakan tubuh dalam shalat dapat melancarkan aliran darah, khususnya ketika sujud. Gerakan sujud membuat posisi otak lebih rendah dibandingkan jantung, begitu pula ketika ruku dan duduk tasyahud, rasa tarikan yang tidak biasa dapat mengelastiskan pembuluh darah.

 Ditambah dengan kondisi yang sangat memilukan di penghujung tahun 2020, banyak orang kehilangan pekerjaan dikarenakan virus yang sangat mematikan ini. Perekonomian mereka pun turun dengan sangat drastisnya. Bukan hanya itu saja, kondisi mental mereka pun terganggu juga. Dengan demikian, pada akhirnya pengangguran bertambah banyak, bahkan kejahatan justru semakin tak terkendalikan dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Agama Islam sangat memedulikan terhadap stres bagi kaum muslimin dengan memberikan solusi. Jika stres datang kepada kita, solusnya yaitu dengan sering mendawamkan wudhu, shalat, sedekah, beristighfar, dan mendengarkan ayat suci Al-Qur’an, atau dengan memahami penderitaan kita. Dengan memahami bahwa penderitaan tidak selalu berbuah keburukan, kita bisa menggunakan akal pikiran dan kata hati untuk mencerna masalah. Kita juga bisa menjauhi hawa nafsu yang menutupi kejernihan pikiran.

  Menurut dokter neorologi, perasaan stres sering menjadi musuh dalam selimut. Perasaan ini datang secara tiba-tiba dan sulit dikendalikan. Nah, ternyata Al-Qur’an sudah membahas bagaimana caranya bila kita dihadapkan dengan rasa stres, yaitu dengan sabar dan shalat. Karena hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.

Hal ini menjadi bukti atas qudrot dan kuasa-Nya, tidak ada yang mampu menghalau semua kehendak-Nya. Kita hanyalah seorang makhluk yang lemah yang diciptakan hanya untuk bertakwa dan menyembah kepada-Nya. Oleh sebab itu, dengan kekuatan imanlah manusia mampu mendorong semua permasalah menjadi sebuah pendekatan kita kepada Sang Maha Pencipta.


Nurul Fariddi, 12 MIPA 1
image reff from canva