Minggu, 24-10-2021
  • Assalamu alaikum Selamat Datang di Website SMA Al Muhajirin Purwakarta dengan Visi : "Menjadi Sekolah Unggulan Berbasis Integrasi Ilmu di Tahun 2025".

CULTURAL ISSUES

Diterbitkan : - Kategori : Artikel / Esai

culture

Hal yang pertama kali dilihat pada suatu negara adalah sosial dan budayanya.
Sosial dan budaya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, khususnya
Indonesia. Sosial yang berarti segala hal yang berhubungan dengan masyarakat

 

sekitar, sedangkan budaya adalah segala sesuatu yang mengandung cinta dan rasa. Adapun menurut Koentjaraningrat dalam buku Pengantar Antropologi,kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dimiliki manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1991).

Sosial budaya juga berkaitan erat dengan nilai-nilai pancasila dan menjadi pedoman dalam bersosial dan berbudaya. Dalam hal ini tidak mudah menciptakan sosial budaya dengan ciri khas Indonesia yang berdasarkan pancasila, sedangkan ruang lingkup sosial sekarang lebih merujuk pada individualis dan meniru budaya yang kurang baik. Sosial budaya juga termasuk ke dalam sikap, etika, dan karakter warga negaranya. Sedangkan sekarang ketiganya sudah menyimpang dari norma-norma kemasyarakatan. Jika membahas mengenai kehidupan sosial pasti berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat dan hubungan antar anggota masyarakat maupun antar masyarakat satu dengan yang lainnya. Kehidupan masyarakat beserta hubungannya yang beragam menciptakan suatu kebiasaan yang kemudian disebut sebagai sebuah budaya. Maka dapat disimpulkan bahwa, sosial budaya merupakan suatu pembahasan mengenai fakta-fakta kebiasaan masyarakat dalam hubungan atau interaksi yang terjadi.

Kehidupan sosial budaya tidak selalu berjalan lurus dan sama seperti sebelumnya, karena pasti akan ada yang namanya aspek-aspek perubahan sosial budaya yang disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya adalah karena adanya globalisasi. Globalisasi secara umum dapat dipahami sebagai suatu proses mendunia, yang berarti seluruh standar hidup dalam masyarakat di negara satu dengan negara lain disama ratakan. Globalisasi merupakan suatu contoh fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Pada fenomena ini terjadi suatu proses penyebaran unsur-unsur baru dalam kehidupan masyarakat, contohnya seperti penyebaran pola pikir, informasi, gaya hidup, teknologi, dan masih banyak yang lainnya.

Globalisasi berimplikasi terhadap menyempitnya batas-batas suatu negara, sehingga interaksi antar negara menjadi lebih mudah dan luas. Namun keadaan ini pula yang menyebabkan mudah terjadinya suatu perubahan sosial bahkan menyebabkan suatu permasalahan sosial budaya dalam suatu negara. Globalisasi dianggap sebagai suatu gejala tersebarnya nilai-nilai atau kebudayaan tertentu dari suatu negara maupun secara global ke seluruh lapisan dunia. Penyebaran ini dapat disebut sebagai satu budaya dunia, termasuk mempengaruhi budaya Indonesia.Perkembangan sosial budaya di Indonesia saat ini, dapat kita lihat telah mengikuti perubahan zaman yang sedang berkembang secara global. Banyaknya kebudayaan-kebudayaan asing yang mulai dianut oleh masyarakat Indonesia, pola pikir yang lebih condong ke Barat, hingga mungkin meninggalkan tradisi atau kebiasaan yang sebenarnya telah lama ada di masyarakat Indonesia itu sendiri. Salah satu penyebabnya adalah karena zaman yang semakin berkembang dan teknologi yang semakin canggih, sehingga mempermudah segala aspek kehidupan
yang kemudian sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Indonesia dalam bersosialisasi maupun berinteraksi.

Terdapat banyak karakter permasalahan yang sering terjadi, namun ada salah satu permasalahan sosial yang harus disadari dan diwaspadai bersama agar tidak berkembang lebih jauh lagi. Permasalahan ini berkaitan dengan pemuda Indonesia, yaitu :

Tingkah laku pemuda Di zaman modern seperti ini permasalahan budaya adalah permasalahan yang
memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah banyaknya budaya asing yang masuk dan menjadi pujaan baru bagi generasi muda Indonesia. Bentuknya yang asing dianggap lebih menarik sehingga kebudayaan lokal yang sudah ada menjadi sepi peminat. Masuknya budaya asing ini merupakan salah satu contoh perubahan sosial budaya yang terjadi sehingga mempengaruhi tingkah laku generasi muda.

Walaupun terdiri dari beberapa aliran keyakinan, pada umumnya Indonesia merupakan sebuah negara yang religius. Hanya saja, nilai-nilai tersebut perlahan mulai hilang karena banyaknya budaya asing yang masuk, seperti
berpacaran. Bagi masyarakat luar negeri berpacaran di tempat umum adalah hal yang normal dan wajar. Namun berbeda dengan di Indonesia, berpacaran atau bermain dengan lawan jenis diluar batas kewajaran merupakan hal yang memalukan “aib” jika terlihat di tempat umum. Oleh karenanya, berpacaran ala remaja Indonesia dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Adanya masalah sosial budaya ini, saat ini banyak pemuda yang mulai berpacaran dan bermesra-mesraan di depan publik dan mulai menjurus kepada kenakalan-kenalakan remaja yang lainnya. Dikutip dalam sebuah portal berita, tirto.id – Usia remaja adalah usia saat manusia mengalami transisi dari anak-anak ke dewasa. Meskipun, sebagian
remaja secara fisik memiliki kesamaan dengan orang dewasa, mereka belum tentu berpikir seperti orang dewasa.

Apa penyebab kenakalan remaja? Ada banyak faktor yang menyebabkan kenakalan remaja. Dalam jurnal yang dipublikasikan oleh US Departement of Justice, kenakalan remaja dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor internal dan faktor eksternal. Michael Shader dalam jurnalnya menyebutkan, bahwa faktor internal yang meningkatkan resiko kenakalan remaja antara lain perasaan gelisah, kesulitan berkonsentrasi, sikap mengambil risiko, agresivitas, sikap antisosial, masalah perilaku, IQ rendah, hingga mengkonsumsi zat terlarang. Dalam hal ini Unayah dan Sabarisman menambahkan faktor hormonal yang menyebabkan perilaku remaja cenderung fluktuatif dan sulit ditebak.

Ada beberapa yang paling berpengaruh pada tingkah laku pemuda yang mulai mengarah ke permasalahan sosial dan budaya, yaitu:

1. Keluarga
Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak. Sedangkan lingkungan sekitar dan sekolah ikut memberikan nuansa pada perkembangan anak. Karena itu baik-buruknya
struktur keluarga dan masyarakat sekitar memberikan pengaruh baik atau buruknya pertumbuhan kepribadian anak. Keadaan lingkungan keluarga yang menjadi sebab timbulnya kenakalan remaja seperti keluarga yang broken-home, rumah tangga yang berantakan disebabkan oleh kematian ayah atau ibunya, keluarga yang diliputi konflik keras, ekonomi keluarga yang kurang, semua itu merupakan sumber yang subur untuk memunculkan delinkuensi remaja.

2. Pengaruh lingkungan sekitar

Pengaruh budaya barat serta pergaulan teman sebaya sering mempengaruhi remaja untuk mencoba dan akhirnya terjerumus ke dalamnya. Lingkungan adalah faktor yang paling mempengaruhi perilaku dan watak
remaja. Jika dia hidup dan berkembang di lingkungan yang buruk, moralnyapun akan seperti itu adanya. Sebaliknya jika ia berada di lingkungan yang baik maka ia akan menjadi baik pula. Pada kehidupan bermasyarakat, remaja sering melakukan keonaran dan mengganggu ketentraman masyarakat karena terpengaruh dengan budaya barat atau pergaulan dengan teman sebayanya yang sering mempengaruhi untuk mencoba. Sebagaimana diketahui bahwa para remaja umumnya sangat senang dengan gaya hidup yang baru tanpa melihat faktor negatifnya, karena dianggap ketinggalan zaman jika tidak mengikutinya (kuno).

3. Tempat pendidikan
Tempat pendidikan, dalam hal ini lebih spesifik pada lembaga pendidikan atau sekolah. Kenakalan remaja ini sering terjadi ketika anak berada di sekolah dan jam pelajaran yang kosong. Belum lama ini bahkan kita telah melihat di media adanya kekerasan antar pelajar yang terjadi di sekolahnya sendiri. Ini adalah bukti bahwa sekolah juga bertanggung jawab atas kenakalan dan dekadensi moral yang terjadi di negeri ini.

Upaya-Upaya Mengatasi Kenakalan Remaja
Faktanya, lingkungan keluarga dan sosial sangat memengaruhi perilaku anak, khususnya ketika mereka tumbuh dewasa. Shader menyebutkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang hangat, suportif, dengan orang tua yang senantiasa memberikan perhatian menjadi kunci untuk mengatasi kenakalan remaja. Selain itu, ada beberapa faktor lain yang juga dapat menjadi rujukan untuk mencegah kenakalan remaja secara umum, yakni: pengakuan bahwa individu terlibat dalam kegiatan konvensional mendorong individu untuk memiliki komitmen bersekolah memiliki teman-teman sebaya yang berperilaku wajar mengajarkan orientasi sosial yang positif menerapkan sanksi dan tindakan disipliner.

Mengajarkan nilai-nilai etika pada anak-anak juga tidak kalah penting. Beberapa pihak menyebutnya sebagai tindakan pembentukan karakter. Namun, karakter seperti apa yang ingin dibentuk? Ada sejumlah norma dan etika yang berlaku di Indonesia, dan sebagian terproyeksi dalam kearifan lokal. Rakmatiah dalam tirto.id menyebutkan bahwa dari banyaknya kearifan lokal yang ada di Indonesia, beberapa mengajarkan tindakan-tindakan baik seperti
kejujuran, kecerdasan, keteguhan prinsip, kebenaran, ketulusan, hingga berbuat baik dengan sesama. Sementara ada pula kearifan lokal yang menegaskan larangan seperti berkata kotor atau berbuat asusila. Nilai-nilai kearifan semacam ini, menurut Rakmatiah, diklaim menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan masyarakat sebagai upaya pembentukan karakter anak untuk menjauhkannya dari tindakan menyimpang.

Seiring adanya perubahan-perubahan dalam masyarakat, kebudayaan pun mengalami perubahan karena merupakan hasil kesatuan sosial hidup di lingkungan masyarakat. Perubahan inilah yang digunakan sebagai media adaptasi dengan berbagai lingkungan yang ada di masyarakat. Perubahan tersebut meliputi seluruh unsur kebudayaan secara umum, yaitu bahasa, sistem ilmu pengetahuan, sistem organisasi, sistem teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, dan sistem seni. Budaya tidak akan hilang dalam jati diri seseorang, karena budaya
mampun membawa hidup menjadi sosok yang lebih tinggi dan dihargai. Tanpa budaya seseorang tidak mampu menghasilkan dan menciptakan karyanya melalui hasil pikiran dan memiliki nilai yang sangat tinggi di kalangan masyarakat. Strategi lah yang mampu merubah kebudayaan saat ini, sehingga kebudayaan warisan nenek moyak bisa terealisasikan kembali. Adapun strategi tersebut ialah dengan mengubah pola sikap dengan diri sendiri dan berusaha menjadi pribadi yang baik di mata masyarakat (Kalau bukan sekarang kapan lagi? Kalau bukan
diri sendiri siapa lagi?)

Oleh : Melva Evangelyn
SMA Al-Muhajirin Purwakarta
sumber:gambar from pixabay & canva
Tag :