Minggu, 24-10-2021
  • Assalamu alaikum Selamat Datang di Website SMA Al Muhajirin Purwakarta dengan Visi : "Menjadi Sekolah Unggulan Berbasis Integrasi Ilmu di Tahun 2025".

KHITAN

Diterbitkan : - Kategori : Esai

KHITAN

Mendengar kata khitan tentu sudah tidak asing bagi kalangan umat Islam. Khitan adalah tradisi memotong kuluf atau kulit pada ujung kelamin laki-laki. Tradisi ini sudah ada sejak zaman Mesir Kuno, bahkan tradisi ini juga dilakukan orang-orang Pasifik, Afrika, dan Yudaisme. Di samping itu, ada juga sejarawan yang berpendapat bahwa tradisi ini sudah ada jauh sebelum memasuki periode Mesir Kuno yakni oleh penduduk Arab Selatan dan Afrika.

Di dalam Islam juga diceritakan bahwa sejarah khitan sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS, yaitu setelah beliau bertaubat kepada Allah karena sudah melanggar larangan-Nya. Namun, khitan lebih pupoler pada zaman Nabi Ibrahim AS. Ketika syariat itu dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim AS, karena pada masa itu banyak keturunan Nabi Adam AS yang telah melupakan syari`at. Oleh karena itu, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menghidupkan kembali syari`at berkhitan.

Khitan secara bahasa berasal dari kata khotana yang artinya memotong atau membuang. Sedangkan secar istilah khitan adalah membuka atau memotong kulit (kulup) bagian ujung yang menutupi kemaluan laki-laki dengan tujuan agar bersih dari kotoran dan suci dari najis.

Hukum khitan bagi laki-laki itu dasarnya adalah sunah sebelum baligh, yaitu pada hari ketujuh setelah kelahiran. Kemudian, menjadi wajib ketika laki-laki sudah baligh. Sedangkan hukum khitan bagi perempuan terdapat beberapa pendapat. Khitan bagi perempuan menurut mazhab Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Hambali hukumnya adalah sunah. Tetapi mazhab Imam Syafi`i menjelaskan bahwa hukum khitan bagi perempuan adalah wajib, gunanya adalah untuk menyeimbangkan gairah seksual saat sudah dewasa.

Agama Islam adalah agama yang sempurna, salah satu bentuk kesempurnaan Islam adalah adanya ajaran tentang sunnah-sunnah fitrah. Sunnah ini merupakan sesuatu yang sudah dilakukan sejak dulu dan sesuai dengan fitrah manusia, yaitu fitrah kepada keindahan dan kebersihan. Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menyebutkan ada lima macam fitrah, yaitu khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.

Fitrah khitan ini juga sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 222,

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيۡنَ وَيُحِبُّ الۡمُتَطَهِّرِيۡنَ

Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.”

Selain untuk menyempurnakan fitrah yang lima, menurut dr. Rifwanul Basir khitan juga bermanfaat bagi kesehatan kita yaitu untuk menjaga kebersihan dari segala kotoran atau najis, terutama yang menyebabkan penyakit. Dalam pandangan kesehatan ada beberapa kondisi atau keadaan yang mengharuskan seseorang untuk dikhitan, salah satunya adalah fimosis. Fimosis adalah keadaan kulit kuluf yang menutupi kepala penis memiliki lubang yang kecil, jadi akan sulit untuk ditarik ke belakang dan kepala penis akan selalu tertutup oleh kulit tersebut. Salah satu akibatnya adalah penderita akan sulit untuk buang air kecil, bahkan akan lebih parah ketika sudah terinfeksi yang disebabkan adanya gesekan-gesekan antara kulit kuluf dengan kepala penis. Biasanya jika sudah sangat parah akan ditandai dengan gejala seperti demam dan sakit ketika buang air kecil.

Selain fimosis, ada juga kondisi lain yang mengharuskan seseorang untuk dikhitan yaitu parafimosis. Parafimosis adalah kondisi pada penis ketika si kulit atau kulup ditarik ke belakang tidak bisa kembali pada posisi semula, keadaan ini dapat menyebabkan aliran darah menyempit, karena kepala penis yang terjepit oleh kulit yang tertarik ke belakang yang membentuk seperti cincin. Gejalanya akan terasa sakit ketika buang air kecil, karena keadaan penis seperti dicekik, dan jika dibiarkan akan mengalami pembengkakan. Biasanya kondisi ini di dalam masyarakat sering disebut dengan istilah disunat jin. Faktanya adalah mengalami kondisi parafimosis, kondisi seperti ini biasanya dialami oleh anak-anak dan lansia.

Dalam segi kesehatan, khitan juga memiliki beberapa manfaat untuk menjaga kebersihan dan memperlancar saluran kemih. Pada pria yang telah menikah, khitan juga mencegah terbawanya bakteri-bakteri yang terdapat pada kelamin wanita (biasanya akibat menstruasi atau keputihan) oleh kelamin si pria saat berhubungan.

Adapun manfaat khitan bagi perempuan yakni sama seperti manfaat khitan pada laki-laki, yakni bertujuan untuk menjaga kebersihan untuk mencegah penumpukan smegma atau kotoran berwarna putih di klitorisis. Namun khitan bagi perempuan sedikit beresiko jika terjadi kegagalan, yaitu akan menyebabkan kurangnya sensasi seksual saat bersetubuh.

Tidak hanya itu, khitan menurut saya adalah hal yang baik, agar tidak terinfeksi dengan bakteri atau penyebab-penyebab penyakit yang disebabkan oleh kelamin. Alangkah baiknya khitan dilakukan secepatnya, maksimal umur 4 tahun, sunnahnya pada hari ketujuh bayi itu dilahirkan. Namun, sekarang banyak orangtua yang takut anaknya dikhitan padahal untuk kebaikan anaknya sendiri. Bukan hanya itu, sebenarnya jika ditunda-tunda dan sudah dewasa akan lebih susah untuk diajak berkhitan.

Berdasarkan pengalaman, saya punya teman dan sekarang sudah 18 tahun umurnya, dan dia belum dikhitan dengan alasan takut. Jika melihat latar belakang keluarganya, memang dia memiliki orangtua yang cuek, sehingga tidak memperhatikan sesuatu yang kurang pada anaknya. Itulah yang menyebabkan dia terlambat dikhitan.

Apabila kita menilik ibadahnya orang yang belum dikhitan, apakah sah atau tidak? Sebenarnya sah-sah saja, dengan syarat memastikan bahwa najisnya benar-benar hilang dengan bersih. Oleh karena itu, khitan menjadi wajib dengan alasan untuk menghindari keraguan adanya najis.

Ditulis oleh : Ahmad Nailul Autor
Tag :