esai, Fun & Fresh, Review, Siswa Menulis

Punya Ilmu? Amalkan! (Alfath Pangestu D.)

 

 

Tuntutan masyarakat terhadap pemuda khususnya yang belajar di pesantren  atau sering kita sebut sebagai santri sangatlah kuat.  Anggapan mereka pemuda adalah penerus bangsa khususnya santri adalah penerus para ulama, tapi apakah kita sebagai pemuda khususnya santri mampu untuk menjadi seperti yang mereka harapkan? Tentu saja jawabannya ada pada diri setiap santri.

Pesantren merupakan basis pendidikan terpadu dalam menempa karakter dan keilmuan,  wadah bagi siapa saja yang ingin mempelajari studi Islam dengan intensif, berbagai pembahasan mengenai keilmuan dibahas oleh ulama atau tenaga pengajar yang pakar di bidangnya, berbagai kitab-kitab klasik dijadikan sebagai rujukan dalam ilmu akidah, fikih, dan lain-lain. Melalui kitab-kitab rujukan tersebut dapat diketahui bahwa menuntut ilmu hukumnya adalah wajib, “menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim” (HR Ibnu Majah), Khusunya dalam ilmu agama lalu  ditambah dengan beberapa ilmu lainnya yang bersifat dunia.  Pada dasarnya menuntut ilmu sangatlah penting  karena ilmu merupakan cahaya kehidupan, bagaimana jadinya jika hidup tidak diterangi dengan cahaya, maka pastilah hidup ini akan gelap gulita, hampa, dan tak berguna.

Ilmu memberikan kepada pemiliknya berbagai kemewahan, ia tidak akan pernah terasa terkucilkan dimanapun karena terdapat ilmu dalam dirinya, “orang berilmu akan tetap hidup walaupun tulang-tulangnya telah hancur dimakan bumi, sementara orang bodoh telah mati walaupun masih berjalan diatas bumi, disangkanya ia hidup padahal ia telah tiada”. Itu merupakan perbedaan antara orang yang berilmu dan tidak, bila gajah mati meninggalkan gading maka manusia mati meninggalkan sejarah, tapi gajah bukanlah manusia yang memiliki akal begitupun manusia bukanlah gajah yang memiliki gading, ilmu akan melekat pada pemiliknya manakala ia sudah tinggal tulang-belulang dalam kuburnya, tetapi gading akan segera terlepas manakala gajah mati dalam waktu yang tak lama.

Sejarah telah membuktikannya bahwa orang berilmu akan tetap hidup walaupun sudah tiada berabad-abad lamanya, walaupun arti hidup tersebut berbeda dengan kehidupan nyata mereka, kehidupan mereka saat ini adalah kehidupan ilmunya yang masih tetap menyinari kehidupan manusia, begitu pula keilmuan mereka masih tetap diperhatikan dan jadi pertimbangan bagi manusia yang hidup setelah mereka, seperti Imam Ghozali, Imam Syafi’I, dan para ilmuan lainnya masih sering kita dengar padahal mereka sudah tiada begitu lamanya,  mereka bisa dikenang, bisa tetap hidup karena keilmuan yang ada pada mereka, mengamalkan ilmu yang sudah dipelajari dari guru-gurunya.

Mengamalkan ilmu, itu yang dilakukan karena ilmu tanpa amal akan sia-sia. Ilmu bila tidak diamalkan tidak akan berguna hanya dipendam dan akan terlupakan. Zaman sekarang penting bagi seorang yang berilmu untuk mengamalkan ilmunya, mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat, seperti halnya santri yang baru saja menuntaskan pendidikannya di pondok pesantren wajib baginya untuk mengamalkan ilmu yang sudah dipelajari selama bertahun-tahun, setidaknya ia menampakkan akhlak dan budi pekerti yang baik sebagai cerminan bahwa pondok pesantren merupakan penghasil orang-orang berilmu dan berbudi pekerti yang baik.

Bukan hal mudah, Butuh kesiapan dalam mengamalkan ilmu di masyarakat, mental yang kuat dibutuhkan ketika mengajar di majelis ilmu dan segala persiapan harus dilakukan sebelum mengajar seperti mengulang-ulang apa yang dipelajari sebelum menyampaikannya, harus teliti dalam menyampaikan, tidak berbelit dalam menjelaskan agar pendengar paham apa yang telah disampaikan.

Mengamalkan ilmu juga butuh keberanian dan butuh ilmu untuk menyampaikannya, ilmu yang diamalkan harus benar sesuai dengan syari’at,  jika salah yang ada orang-orang akan sesat karena mengikutinya. Menjadi imam salat, mengajar di majelis ilmu, menjadi khotib merupakan cara untuk mengaplikasikan ilmu sesuai dengan yang diajarkan pondok pesantren, tetapi jangan dijadikan tujuan bahwa dengan mengamalkan ilmu kita akan dikenang abadi dalam kehidupan, itu hanya sebagai bonus yang didapat oleh orang-orang berilmu, tetap jadikan rida Allah sebagai tujuan agar hati tetap ikhlas dalam melakukannya. (Ed)

 

 

 

Penulis  : Alfath Pangestu Danar

Kelas     : XII MAK 1

 

 

 

 

About the Author

SEKOLAH INTEGRASI ILMU ( SMA/MA) MERUPAKAN BOARDING SCHOOL TERBAIK DI PURWAKARTA