Aktifitas, esai, Fun & Fresh, Siswa Menulis

Ketika Usaha dan Doa Bersatu: Kenyataan yang Indah Menghampirimu (Diki Darmawan)

    

Dalam kehidupan, manusia diciptakan dari sebuah sperma yang menyatu dengan ovum, menempel dan berkembang di rahim. Pada waktu yang ditentukan lahirlah seorang manusia yang berukuran kecil yang sering kita sebut bayi. Dari bayi inilah tumbuh berkembang hingga menjadi manusia dewasa yang memiliki tingkat kedewasaan masing-masing.

Manusia memang diciptakan dari bahan dan tempat yang sama, tapi persamaan tersebut tidak terus menerus sama sampai akhir, usaha dan takdirlah yang membuat mereka berbeda. Semua tergantung pada tujuan mereka yang dibuktikan dengan usaha dan sesuai takdir mereka masing-masing.

Ketika mereka beranjak dewasa maka pendidikan berupa sekolah menjadi makanan dalam memupuk keperibadian mereka. Pendidikan dibedakan menjadi 2 bagian yaitu akademik (pendidikan didalam kelas) dan non-akademik (pendidikan di luar kelas) atau lebih dikenal esktrakulikuler, sesuai dengan bakat dan minat si pelajar.

Dalam pendidikan sering kali diadakan pengetesan atau uji kempetensi untuk mengetahui pemahaman siswa dalam pembelajaran. Pengetesan tersebut berupa tes tulis (ulangan), ujian praktik. Pengetesan bukan hanya dilakukan sekolah tapi juga bisa dilakukan lembaga-lembaga lainnya dengan memberikan hadiah pada siswa yang kemapuannya di atas rata-rata atau lebih dikenal dengan perlombaan, bisa berupa OSN, FLS2N, dan masih banyak yang lainnya.

Saya pribadi sebagai penulis merasa lebih condong pada bidang akademik atau lebih tepatnya di bidang Matematika, kendati seperti itu saya mencoba untuk menguji kemampuan saya dengan mengikuti perlombaan dan bersaing dengan ratusan siswa. Untuk pertama kalinya mengikuti lomba, torehan manis terukir. Alhamdulillah saya bisa lolos sampai semi-final dalam perlombaan se-provinsi. Itu menjadi torehan terbaik untuk pertama dan terakhir untuk saya. Mengapa demikian? Apakah saya tidak mengikuti lomba lagi? Bukan karena itu. Bahkan selepas dari perlombaan pertama saya lebih sering mengikuti perlombaan, terbukti dari 3 tahun saya mengikuti kurang lebih sebanyak 8 kali dan semua di lewati tanpa gelar juara.

Kegagalan memang hal biasa dalam perlombaan, tapi ketika saya harus  menerima kenyataan gagal terus menerus dalam perlombaan, dari situ saya berpikir ada yang salah dalam cara saya mempersiapkan semuanya. Saya sadar keseriusan saya dalam mempersiapkan semuanya sangatlah minim dan hanya bermodalkan kobaran semangat yang tidak direalisasikan dalam usaha. Saya terbilang malas dalam berlatih dan mungkin keseriusan berlatih pun sangat jauh jika dibandingkan dengan sang juara di luar sana.

Kegagalan memang menimpa saya, tapi setidaknya diri ini sadar penyebab kegagalan tersebut, bahwa semuanya mesti dipersiapkan dengan sangat maksimal  dan diperkuat dengan doa-doa, sebab sejatinya hasil dari sebuah pencapaian itu merupakan cerminan dari usaha yang kita lakukan. Maka dari itu mulailah berusaha menggapai mimpi-mimpi yang Anda inginkan, bukan hanya keinginan tapi harus disertai pembuktian yang dimulai dengan pembiasaan baik, disiplin berlatih, semangat mempelajari hal baru, dan selalu berdoa. Lalu, tunggulah buah dari segala mimpi yang  akan mengahasilkan kenyataan.

 

Penulis  : Diki Darmawan

Kelas     :  XII Mipa 1

About the Author

SEKOLAH INTEGRASI ILMU ( SMA/MA) MERUPAKAN BOARDING SCHOOL TERBAIK DI PURWAKARTA