Aktifitas, esai, Siswa Menulis

Harapan yang Tidak Ditakdirkan (Syarah Syaghifah R.)

 

 

Awal tahun 2020 ini banyak harapan yang diimpikan oleh umat manusia, begitu juga para santri Al-Muhajirin. Semua rencana, rangkaian kegiatan sudah dipersiapkan jauh hari untuk mewarnai tahun 2020 ini. Tak disangka, harapan itu tidak ada di garis takdir Allah.

Bermula dari Wuhan, China Virus Corona menyebar. Awalnya Indonesia terlihat santai mendengar berita itu, tapi tak disangka virus itu datang tanpa permisi. Mematikan harapan warga Indonesia. Satu persatu nyawa hilang  diserang virus ini. Hingga akhirnya warga semakin panik akan keadaan seperti ini.

Pemerintah mengimbau warga agar selalu menjaga kebersihan diri dengan selalu mencuci tangan. Tetapi tetap saja, masih ada warga yang tidak memedulikan imbauan itu.  Kemudian, menyebabkan virus menyebar dengan mudah. Semakin banyak korban yang berjatuhan karena virus itu. Dengan adanya berita bahwa korban di Indonesia semakin bertambah, pemerintah meliburkan beberapa sekolah termasuk pesantren.  Atau tepatnya menjadikan sekolah di rumah.

Hari itu sedang berjalan dengan semestinya, hingga akhirnya para santri Al-Muhajirin dikumpulkan dan menerima kabar bahwa pembelajaran untuk sementara akan dilaksanakan di rumah masing-masing. Para santri bingung, haruskah senang karena pulang atau sedih karena adanya wabah ini. Guru mengingatkan agar para  santri di rumah saja. Kecuali,  jika tidak ada keadaan mendesak.

Aku, seorang santri yang harus tetap menetap di pesantren merasakan perbedaan suasana setelah teman-temanku pulang. Zikir yang selalu terdengar di setiap waktunya kini terganti oleh suara jangkrik yang juga tampak kesepian. Begitu juga yang dirasakan para guru yang masih tinggal di pesantren. Beliau rindu mengajar santrinya secara langsung.

Tentu saja teman-temanku juga merasakan hal yang sama. Ingin kembali bersama merajut  harapan yang belum tercapai. Aku mencoba menghubungi teman-temanku dan berbagi rasa tentang libur kali ini yang tampak hambar.

Aku kangen banget ngumpul bareng temen di pondok, bercanda bareng, makan bareng, nundutan bareng, padahal tahun ini tahun terakhir kita. Sedihnya lagi kita harus berpisah tanpa berpamitan. Tapi gapapa, aku terima kesedihan ini agar Indonesia cepat pulih,”curahan Vania kelas 6 MAK 2.

Pengen ke pondok ih, di rumah sepi, ngobrol sama temen juga cuma lewat sosmed, ga asik, ngaji juga enakan langsung. Kangen semua suasana pondok,” curahan Silvi kelas 6 MAK 2.

Aku tuh awalnya seneng karena libur, eh liburnya kepanjangan jadi bosen, terus juga gak boleh keluar rumah. Aku kangen salat berjamaah, cerita di kelas, main sama anak kobong. Semoga wabah ini cepet selesai, aku mau ketemu teman, guru, dan Pak Kiai,” curahan Nazma kelas 5 IPA 3.

Semua rindu, ingin kembali dengan keseruan di pesantren. Doa demi doa terus dipanjatkan. Lekas membaik bumi pertiwi, banyak penduduk-Mu yang rindu cantiknya alam-Mu. (Ed)

 

Penulis  : Syarah Syaghifah R.

Kelas      : 6 MAK 2

About the Author

SEKOLAH INTEGRASI ILMU ( SMA/MA) MERUPAKAN BOARDING SCHOOL TERBAIK DI PURWAKARTA