Aktifitas, esai, Fun & Fresh, Siswa Menulis

PESANTREN RINDU

 

Tentu telah kita ketahui bersama, bahwa sekarang ini kita tengah menghadapi sebuah cobaan. Sudah tidak asing lagi karena semua orang hampir setiap waktu menyebutnya, yaitu covid-19.

Keadaan ini membuat semua orang  tidak dapat beraktivitas seperti biasanya. Keadaan ini juga  membuat semua orang khawatir, tak terkecuali aku sebagai santri. Mulai dari  kegiatan belajar di sekolah diganti dengan kegiatan belajar daring, seluruh pegawai  harus  bekerja di rumah,  pelaksanaan kegiatan ibadah seperti tarawih dan salat Jumat di rumah,  dan ditidakadakannya mudik hari raya idul fitri. Tentu, semua hal tersebut membuat munculnya rasa rindu dalam diri seseorang karena tidak dapat melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan.

Kerinduan yang terjadi pada masyarakat seperti rindu kampung halaman, rindu bekerja, dan rindu ibadah bersama itu adalah hal yang dirasakan. Namun, perlu diketahui bahwa ada sebuah rasa rindu yang hanya dapat dirasakan oleh santri.

Para santri memang sering merasa bosan ketika berada di pesantren, merasa jenuh, kesal, capek, bahkan mengeluh setiap hari. Apalagi ketika mereka sedang beristirahat, bermain ataupun makan, tiba-tiba mereka mendengar pengumuman harus mengaji, harus ke masjid, harus piket dan harus berangkat sekolah. Hal-hal tersebut justru sangat menjengkelkan. Meskipun begitu, semuanya tetap dijalani oleh para santri dengan berusaha ikhlas.

Saat muncul pandemi Covid-19 santri  merasa takut sekaligus senang. Tentu mereka merasa khawatir dengan adanya virus tersebut, tapi di samping itu mereka merasa senang karena mereka akan dipulangkan ke rumah masing-masing.  Bayangan santainya di rumah, nikmatnya makan tanpa harus antre, dapat menggunakan gawai, dan tentunya bisa unggah status di instagram menjadi cita-cita kebosanan di pesantren.

Namun apa yang terjadi? Perasaan senang itu berubah menjadi duka seketika. Semua yang terjadi di rumah tidak sesuai dengan apa yang dibayangkan.  Aku, bahkan mereka  telah membayangkan betapa menyenangkan berada  di rumah. Senang sebab akan  akan bermain, shopping, dan melakukan hal-hal menyenangkan lainnya. Namun,  faktanya aku atau mereka terus terkurung di rumah, bahkan sangat  takut keluar. Sekalipun ada di anntaranya yang tetap memaksa keluar rumah, itu hanya sedikit sekali.

Santri itu terbiasa dengan keramaian, yaitu keramaian murojah dan hataman kitab. Santri itu terbiasa disiplin, yaitu disiplin salat 5 waktu dan salat sunah. Santri itu terbiasa kompak, yaitu kompak salat berjamaah, dan terbiasa sabar, yaitu sabar antre makan dan ke kamar mandi.

Kemudian, aku bahkan mereka menduga kelas daring akan memudahkan. Nyatanya harus berkejaran dengan sinyal juga mati lampu.  Berkonsultasi daring dengan guru mengenai materi tidak sesederhana bayanganku. Mencoba fokus  dengan gawai, kadang adik balitaku berseloroh “kakak hp/laptop terus, adik tidak boleh.” Selain itu, menabung pun terpaksa kuhentikan karena di rumah tak ada uang jajan.

Kelas daring itu kupikir menyenangkan, tapi seolah diserbu tugas dalam waktu bersamaan. Meskipun guru memberikan kelas sesuai jadwal kelas luring dan memberikan tugas sebagai evaluasi, tetap saja aku bahkan mereka seolah diserang tugas bersamaan. Iya karena aku bahkan mereka santai, tidak mendapatkan uforia sekolah. Jadi, tugas dikerjakan bersamaan di akhir tenggat waktu. Alih-alih mencari referensi guna mengerjakan tugas, malah keasyikan stalking dan update story.  Selain itu, ketika berniat mengaji Al-Qur’an, mempelajari fiqih, tafsir seringkali berujung tidur pulas. AKU RINDU PESANTREN.

Maka, tiba-tiba santri merindukan suasana pesantren. Santri merindukan suasana ramai di setiap detik, merindukan makan bersama, merindukan mengaji bersama, walaupun sebenarnya saat pengajian tak jarang salah satu di antara mereka masih ada yang mengobrol, tidak memperhatikan, bahkan nundutan. Namun, tetap saja RINDU.

Hal  lain yang paling dirindukan oleh santri, yaitu sosok yang tak kenal lelah, sosok yang selalu memberikan motivasi, dan menjadi inspirasi, siapa lagi? Beliau adalah Bapak Kiai. Pada masa ini semua santri hanya bisa memandang Bapak Kiai melalui pengajian di youtube.  Iya, santri rindu mengaji dan belajar ilmu agama bersama beliau. Biasanya, santri sangat senang ketika mengaji dengan beliau, semuanya berebut mengaji di shaf paling depan karena ingin dekat dengan beliau.

Sekarang, pesantren adalah satu-satunya  tempat yang sangat ingin dikunjungi.  Semua kebahagiaan santri terdapat di dalamnya, kebersamaan, kekompakan, semua yang tak dapat dirasakan di rumah, walaupun sebenarnya keluarga seperti ayah, ibu, dan yang lainnya ada di rumah, tetap saja semua hal tersebut tidak dapat dirasakan di rumah.

Dihukum karena terlambat ke masjid, buru-buru berangkat sekolah, mencampurkan bermacam-macam mie dalam satu wadah, mengantre kamar mandi, meminjam uang, bahkan saling  meminjam sandal  tidak bisa dilakukan di rumah.

Pesantren tidak hanya menjadi tempat para santri mencari ilmu, akan tetapi menjadi tempat para santri menaruh semua rindu. Lari di lapangan karena terlambat sekolah, mengaji selepas Subuh dengan menahan kantuk,  setoran hafalan, dan senam pagi di hari Ahad. Ah  RINDU.

 

Semoga pandemi ini cepat berlalu agar kami SANTRI kembali menuntut ilmu. Covid-19 cepatlah pulang, biar kami SANTRI bertemu Bapak Kiai,  cepatlah hilang agar kami SANTRI kembali mengaji. (Ed)

 

 

 

 

 

Penulis            : Sabilatunnajah

Kelas                : XI IPS 2

 

 

 

About the Author

SEKOLAH INTEGRASI ILMU ( SMA/MA) MERUPAKAN BOARDING SCHOOL TERBAIK DI PURWAKARTA