Cerpen, Karya Sastra, Siswa Menulis

(Bagian 2) HIDUP: Perjuangan dan Kebermanfaatan

 

 

 

 

 

Lukisan langit itu begitu cerah bagai hati seorang gadis yang bernama fatimah yang hari ini akan melakukan tes disekolah barunya. Tes ini akan menentukan dia bisa tidak melanjutkan SMA nya. Teriknya matahari tidak membuat fatimah mundur dan berhenti semangat ,namun justru ini mebuat fatimah menjadi lebih semangat untuk menuju gerbang cita citanya karena di masa SMA lah semuanya dimulai. Yang tidak main main lagi yang akan membuat cerita yang beda. Fatimah menuju sekolah itu menaiki angkutan umum. Kata bu maya tes itu akan dimulai di dua gelombang gelombang pertama dari pagu hingga dzuhur dan gelombang kedua dilakukan dari setelah dzuhur sampai ashar.dan fatimah mendapat bagian di gelombang 1 jadi ia harus benar benar ekstra pagi karena takut akan terlambat.

Dengan langkah gontai Fatimah memasuki kelas yang telah ditentukan, benar kata bu maya ada ratusan siswa siswi yang memenuhi sekolah ini. Memang langka sekolah sma mengadakan beasiswa sampai lulus kuliah asalkan siswa nya mau belajar dan sungguh sungguh. Hanya 50 orang siswa yang terpilih dari ratusan peserta yang mengikuti tes beasiswa ini. Fatimah sudah siap memasuki kelas dan memulai tes lisan dengan sedikit tegang. Fatimah menjawab 9 dari 10 soal yang diberikan. Di antaranya matematika 4 soal, ipa 4soal dan bahasa indonesia 1 soal.

Jujur fatimah ketika menjawab tes lisan ini benar benar gugup karena soalnya  tidak terlalu ia kuasai namun sekarang sudah terlewati. Hanya saja bersisa tes tulis yang membuat fatimah tegang parah. Gosip dari yang lain soalnya berjumlah 100. 30 soal matematika,30 soal IPA, 20 soal bahasa Indonesia dan 20 soal lagi bahasa inggris. 5 menit lagi fatimah akan memasuki kelasnya,teman teman yang belum ia kenal pun memasang wajah yang masam dan kurang menyenangkan, nampaknya mereka sama seperti ku tegang.

Saat memasuki kelas hatiku makin berdegup kencang saat melihat guru pengawas sudah memasuki ruangan. Di kelas ini aku mempunyai teman baru yang bernama Agita dan Adzkia. Mereka sosok yang ramah dan asik. Saat pertama kali melihat mereka aku takut karena mereka berbadan besar dan memasang wajah yang sedikit masam. Aku kira mereka berdua kembar ternyata mereka baru kenal ketika pembagian kelas. Lumayan agar aku tidak terlalu kaku saat memulai tes ini.

Pengawas mulai membagikan soal ke masing-masing meja, di dalam ruangan ini kita duduk sendiri sendiri. Ya mungkin agar mengantisifasi terjadinya acara contek menyontek. Karena bagaimana pun juga orang yang terpilih menjadi peraih beasiswa ini adalah orang orang terbaik. Aku mulai mengisi soal dengan tenang, aku memilih mengisi yang mudah terlebih dahulu. Aku tak henti hentinya membaca doa karena melihat soal yang begitu sulit. Rasanya ingin menangis sekarang juga jika aku sedang sendiri mengerjakan soal serumit ini.untungnya aku brpikir positif saat mengerjakannya. Walaupun dari 100 soal aku hanya menjawab 95 soal yang terpenting aku sudah berusaha. Semoga ada jalan dibalik usahaku ini.

Akhirnya tes yang aku jalani telah selesai hanya tinggal menunggu hasil lahaulawalakuatailabilah ,aku pasti dapat beasiswa itu. Selesai tes agita dan adzkia mengajaku membeli buku di toko yang tak jauh dari sekolah. Kata agita “kita harus banyak membaca buku agar ilmu terus bertambah” teman baru ku ini teman yang baik ia mampu membawaku ke arah yang lebih baik lagi. Mereka mengajaku membeli buku terbaru seperti buku motivasi yang ditulis oleh remaja mutlitalent Wirda Mansyur. Setelah membeli buku mereka mengajaku untuk makan siang di warung nasi sederhana, maklum hanya anak sekolah.

Kita berpisah di gerbang sekolah, mereka pamit pulang dan akupun pulang. saat aku pulang aku langsung memeluk ayahku karena berkat doanya aku bisa lancar menerjakan soal soal dengan mudah. Ayahku heran kenapa aku begitu bahagia melihatnya.” Maaf ayah aku belum bisa bilang “ kataku dalam hati

Tadi saat aku dan temanku mampir ke warung nasi tak lupa aku juga membelikannya untuk ayah, walau hanya dengan lauk pauk sederhana setidaknya aku bisa membuat ayah senang. Pekerjaan ayah sekarang adalah tukang bantu bantu di pasar ,kadang aku merasa iba melihat ayah karena mengangkat barang barang besar itu bukan hal yang mudah, apalagi mengingat usia ayah yang tak muda lagi ditambah upah yang tak seberapa, penghasilan ayahpun hanya bisa dipakai untuk makan 1 hari.

Sebagai seorang anak aku hanya bisa berdoa untuk ayah, aku pernah bilang bahwa aku saja lah yang bekerja ayah cukup istirahat saja. Namun ayah menolak karena kata ayah tugasku hanya belajar dan belajar karena jika nanti aku sukses yang akan terbawa adalah ayah. Ayah memang pahlawan hidupku.

**********

 

Keesokan harinya fatimah terus stay menatap handphone nya ia sedari tadi menggenggam handphone nya itu, karena menunggu sebuah pengumuman ia lolos tes atau tidak. Kata bu maya hasilnya akan diumumkan tepat jam 10 pagi, sedangkan sekarang baru jam 9. Namun esedari tadi fatimah sudah menunggu hasil itu. Tadi pagi ayah pergi untuk kembali sekolah, ayah akan pulang setelah shalat ashar. Dan semoga hari ini aku membawa kabar gembira untuk ayah.

Tepat jam 10 hasil itu diumumkan kepada seluruh peserta, aku mencari namaku diantara 50 peserta lainnya yang lolos tes. Disana ada nama adzkia dan agita wah aku senang karena mereka berhasil, aku terus mencari nama ku. Aku terkejut senang terharu ternyata nama ku terdaptar di antara 50 orang beruntung itu. Ayah ini hadiah ku untuk ayah.

Waktu menunjukan pukul 4 sore itu tandanya sebentar lagi ayah akan pulang, tadi sebelumnya aku sempat membeli nasi bungkus untuk ayah. Aku yakin ayah pasti merasa lapar karena ayah termasuk orang yang kurang peduli terhadap kondisi badan sendiri. Akhirnya ayah pulang kerumah dengan kondisi yang terlihat begitu kelelahan,aku langsung membawakannya minum dan makan. Ayah memakannya dengan begitu lahap, aku dari tadi tidak bisa berhenti tersenyum, aku berencana untuk memberitahu ayah tentang berita bahagia ini nanti ketika ayah selesai makan.

Ayah telah berhenti makan dan aku membereskannya, tadi ayah bertanya kenapa aku selalu tersenyum. Aku tidak menjawabnya aku terus saja tersenyum. Aku memberanikan diri untuk menguak semuanya kepada ayah tak enak juga jika terus terussan menutupinya dari ayah.

“Ayah ada yang mau fatimah omongin”kataku

“Enggak biasanya fatimah gini, mau ngomong apa nak?”

“Sebenarnya beberapa hari lalu fatimah bilang ke guru smp, bahwa fatimah tidak akan melanjutkan sma kemudian mereka bilang fatimah harus melanjutkan sma, tapi fatimah bilang fatimah kasian ke ayah, terus ada salah satu guru yang bilang katanya ada salah satu sma yang nawarin beasiswa sampai lulus. Terus fatimah bilang fatimah mau mencobanya, akhirnya fatimah cari tahu tentang sekolah itu sampai akhirnya fatimah datang ke sekolah itu dan menemui kepala sekolah disana. Kemudian kata kepala sekolah itu fatimah harus melewati 2 tes. Tes lisan dan tes tulis, kemarin fatimah sudah menyelesaikan semua tes itu tanpa sepengetahuan ayah. Terus kata kepala sekolah itu bakal ada 50 peserta yang bakal lolos dan masuk sma itu dengan beasiswa. Nah tadi jam 10 pengumuman siapa saja yang lolos, dan alhamdulilah fatimah lolos ayah. Ini semua buat ayah, fatimah gamau ngerepotin ayah ini kan buat fatimah sukses jadi fatimah harus usaha dengan keras biar jadi orang sukses” jelas fatimah

“Ayah bangga sama kamu nak, selamat atas keberhasilanmu. Ayah akan dukung apapun yang kamu lakukan asalkan itu positif” jawab ayah

“Aku sayang ayah”jawab ku seraya memeluk Ayah.

Aku senang ternyata Ayah bangga terhadapku, cita citaku untuk melanjutkan SMA bisa terwujud. Dan aku berharap semoga aku bisa lulus sampai kuliah dan bisa menjadi orang sukses agar bisa membuat ayah bangga.

**********

 

Pagi ini seperti biasa aku melakukan semua pekerjaan rumah, dan rencananya hari ini aku akan membeli buku di toko yang biasa aku dan teman-teman kunjungi. Pagi pagi sekali ayah sudah pergi menuju pasar, katanya banyak job besar hari ini jadi ayah harus pergi cepat cepat agar tidak keduluan orang. Sebenarnya aku khawatir terhadap kondisi kesehatannya tadi malam sebelum tidur ayah muntah muntah dan mengeluh sakit kepala. Tadi pagi pun sebelum berangkat kerja ayah tidak sarapan, katanya nanti saja di pasar.

Semua pekerjaan rumah sudah selesai aku laksanakan, tinggal siap siap dan pergi mencari buku. Hari ini aku pergi sendiri karena teman teman ku sedang ada acara dengan keluarganya, rencananya aku akan membeli buku pengetahuan tentang sains. Karena rencananya masuk SMA nanti aku ingin mengambil jurusan IPA.

Aku berangkat menuju toko buku. Karena toko buku itu tak terlalu jauh aku memutuskan untuk berjalan kaki, hitung hitung mengirit ongkos. Setelah sampai di sana aku langsung masuk ke dalam toko buku dan menuju rak yang memamerkan buku buku jurusan IPA. Aku mengambil buku Kimia, Fisika, Biologi, dan Matematika, setelah selasai aku menuju kasir untuk membayarnya.Setelah buku buku itu sudah berada di tanganku aku langsung keluar dari toko buku dan pulang ke rumah.

Aku masuk ke dalam rumah, adan Duhur sudah berlalu sedari tadi, tapi aku tidak melihat ayah di rumah, tumben sekali ayah belum pulang, biasanya ayah sudah pulang sebelum dzuhur, Tiba-tiba saat aku melangkah keluar rumah ada sebuah telefon masuk dari nomor yang tidak aku kenal, saat aku menjawabnya ternyata dari Rumah sakit Citra. Aku terkejut bukan main, katanya Ayah ku dilarikan ke Rumah Sakit karena tak sadarkan diri. Ke khawatiranku benar benar terjadi, akhirnya aku langsung pergi menuju Rumah Sakit citra.

Saat aku sampai ada seorang warga yang sepertinya teman kerja Ayah, ia bilang katanya kondisi Ayah begitu lemah jadi harus dilarikan ke UGD. Aku hanya bisa menangis, tidak biasanya Ayah seperti ini, kasian Ayah harus membanting tulang sampai kecapean begini.

Dokter keluar dari ruangan UGD katanya kondisi ayah begitu lemah jadi ia harus istirahat total, kemudian dokter memberitahuku tentang penyakit ayah, katanya ayah mengidap penyakit kanker otak stadium 4, dan umurnya sudah tidak lama lagi. Awalnya aku tidak percaya aku yakin ayah hanya kecapean, tapi dokter bilang bahwa ayah sering check up, namun beberapa minggu ke belakang ia tidak pernah melakukan check up kembali. Aku hanya bisa menangis mendengarnya tidak kuat menerima kenyataan pahit ini. Ya Allah selamatkan dan kuatkan Ayah.

 

 

 

 

Bersambung…

 

Penulis : Agita dan Suci

About the Author

SEKOLAH INTEGRASI ILMU ( SMA/MA) MERUPAKAN BOARDING SCHOOL TERBAIK DI PURWAKARTA