Cerpen, Karya Sastra, Siswa Menulis

  (Bagian 1) HIDUP: Perjuangan dan Kebermanfaatan

                      

 

 

Awan putih yang bergerumbul itu seumpama kumpulan jutaan Malaikat yang sedang berdzikir dalam diam. Gadis berjilbab hitam itu menyeka air matanya sambil memandang ke luar kaca rumahnya. Ada kerinduan terhadap masa kecilnya dulu. Hidupnya berubah 180 derajat saat ia memasuki umur ke 6 tahun di mana ia baru memasuki masa Sekolah Dasar.

Bebarapa minggu kebelakang ia dan Ibunya mendapat kabar dari sang Ayah bahwa Perusahaan nya Gulung tikar. Dan itu mengakibatkan Ayah nya dipecat dari kantornya. Ibunya marah besar ketika ia tahu bahwa Ayah dipecat. Keluargaku yang tadinya harmonis kini menjadi hancur. Bahkan hampir setiap hari Aku mendengar pertengkaran antara Ayah dan ibu. Ayah hanya bisa bersabar menghadapi sikap Ibu karena bagaimanapun Ibu adalah seorang wanita jadi Ayah sangat menghargainya.

Pagi itu Keluarga Fatimah sedang melakukan rutinitas seperti biasa shalat shubuh berjamaah, sarapan pagi bersama. Sampai akhirnya semuanya melakukan aktivitas masing masing. Ayah pergi ke kantor, Ibu membereskan pekerjaan rumah, dan aku sekolah. Aku sekolah di SMA Ar-Ridho , jaraknya cukup jauh dari rumahku. Tapi kata Ayah “ Sejauh apapun kita melangkah jika tujuannya untuk belajar maka lakukanlah karena itu sebuah kemuliaan”.

Seperti biasa Aku pergi dengan menaiki angkutan umum, mungkin jaman sekarang banyak remaja seumuranku yang ennggan menaiki angkutan umum alasannya gengsi, padahal bagiku naik apapun itu yanng penting bisa sekolah dan membahagiakan Ayah dan Ibu. Dari kecil Ayah sudah mengajarkanku untuk bersyukur disetiap apapun mau suka duka dan yang lainnya. Dulu Saat Aku lulus dari SMP Ayah sempat bilang bahwa aku harus berhenti sekolah dan tidak bisa melanjutkan SMA, Awalnya aku bingung kenapa? Ternyata penyebabnya ialah ekonomi atau uang. Memang benar uang selalu jadi pokok masalah dari terputusnya sekolah, kematian seseorang dan yang lainnya.

Namun sekolah ku dulu mengajaku untuk tetap semangat melanjutkan sekolah, tapi aku tidak mau merepotkan Ayah , saat Aku bertanya tanya kepada guru guru katanya ada sekolah SMA Yang menawarkan Beasiswa sampai lulus kuliah. Aku senang karena ada jalannya juga agar Aku bisa melanjutkan sekolahku sampai ke tingkat universitas! Akhirnya Aku mencari tahu  tentang sekolah itu ternyata sekolah itu bisa dibilang favorit, ini saatnya untuk membuat Ayah dan Ibu banngga. Aku pun harus mencari tahu tentang bagaimana Aku bisa mendapatkan beasiswa itu?

Sekolah itu berada di Jl. Cendrawasih jakarta barat, jaraknya cukup jauh dari letak rumahku, tapi tak apa Aku akan tetap semangat untuk mengejar gerbang menuju cita cita ku ini. Hari ini aku berniat untuk mengunjungi sekolah itu, Aku pergi sendiri karena memang aku menyembunyikannya dari Ayah dan Ibu. Omong-omong soal teman aku ini sosok orang yang cuek terhadap sekitar jadi temanku pun hanya sedikit. Namun aku tak pernah merasa sendirian karena dengan adanya Ayah Ibu Aku selalu merasa tenang. Walau sekarang ibu menjadi sering diam,marah,dan tidak memperdulikanku lagi. Tak apalah aku mengerti peasaan Ibu. Bahkan ibu jadi jarang pulang kerumah hanya karena Ayah belum mendapatkan pekerjaan.

Saat Aku sampai di SMA Ar-Ridho banyak Anak yang memperhatikanku, sejujurnya Aku malu karena aku tidak memakai seragam sekolah, memang SMP ku sedang libur panjang. Sedangkan aku ke SMA itu saat hari rabu, tak apalah karena melakukan sesuatu yang baik di hari rabu adalah kebaikan. Ada banyak orang yang meliriku dengan wajah yang tak suka dan ada juga yang meliriku dengan sapaan dan senyumannya. Bagiku itu tidak masalah yang penting tujuanku untuk menemui kepala sekolah dan menanyakan bagaimana bisa dapat beasiswa itu! Aku melanjutkan langkahku menuju ruang kepala sekolah, untung saja aku tidak kesusahan saat mencari ruangan kepala sekolah.

Keringatku terus mengalir membanjiri wajahku, hatiku benar-benar berdegup kencang. Bismilah! Aku mengetuk pintu sambil mengucap salam. Beberapa menit yang lalu bel berbunyi jadi sekolah ini tampak sepi karena anak anak memasuki kelasnya untuk memulai belajar. Aku tersenyum senang karena ternyata kepala sekolahnya perempuan. Dia sudah tahu siapa Aku karena guruku sudah mendaftarkanku melalui via online jalur beasiswa.

“Silakan duduk nakJ” kata kepala sekolah itu.

“iya ibu terima kasih banyak” jawabku.

“Nama kamu fatimah ya siswi pintar yang berprestasi itu ya?” tanya kepala sekolah

“Hehe Ibu bisa saja, mungkin saya tidak sepintar yang Ibu maksud. Namun yang ibu maksud bahwa namaku Fatimah.  Saya  ingin mendaftar melalui jalur beasiswa, jika memang rezeki saya, alhamdulillah”jelasku.

“Yasudah saya sudah tahu ko prestasi kamu, tetapi sebelum kamu bisa mendapatkan beasiswa ini kamu harus melewati beberapa tes lisan dan tes tulis” jelas kepsek.

“Iya bu saya sudah siap ko, apa saya boleh tahu nama ibu?”tanyaku

“Ya sudah dua hari lagi tes nya akan dimulai dan kamu akan bersaing dengan ratusan bahkan ribuan orang yang berlomba untuk mendapatkan beasiswa itu “, jawab Bu Maya

“Iya bu Fatimah pasti siap menghadapi tes itu agar bisa melanjutkan SMA tanpa merepotkan ayah dan ibu. Doakan Fatimah ya bu”jawabku.

“Semangat Fatimah ibu yakin kamu pasti bisa!”

“Terima kasih banyak bu, ya sudah aku permisi dulu terimakasih untuk waktunya maaf mengganggu, Assalamualaikum”

“Sama sama cantik, semangat. Walaikumsalam”

Aku pun memutuskan untuk sekadar berkeliling di sekitar sekolah ternyata sama dengan yang aku lihat di internet luas dan sejuk, kantinnya pun bersih dan menyediakan berbagai macam makanan yang cocok untuk anak remaja. Ternyata benar aku tak salah memilih sekolah ini.

Lalu kulihat, masjid dengan bangunan arsitektur ke arab – araban dengan dinding yang dicat  berwana biru muda di bagian atas dan warna biru tua di bagian bawah, dinding itu dilapisi ukiran kaligrafi cantik bertuliskan ahlan wa sahlan di bagian atas pintu masuk dengan warna emas yang mengilat, di depanya terdapat taman kecil yang dihiasi kursi- kursi panjang untuk para siswa menunggu atau hanya sekadar duduk saja. Di samping kanan -kirinya terdapat kolam ikan yang tak terlalu luas yang di dalamnya terdapat ikan-ikan hias yang sangat cantik. Aku berjalan manuju samping kanan, ternyata tak jauh dari kolam ikan ada tempat wudhu khusus wanita, tempat wudhunya sangat bersih dan wangi, tak ada satu pun sampah yang berserakan, sekolah ini sangat menjaga kebersihannya.

Aku mengambil wudhu di sana, setelah selesai, aku masuk ke dalam Masjid, tidak hanya di luar saja yang tamapak indah, di dalamnya pun tak kalah indah, langit-langitnya yang dilukis seperti awan, dinding atasnya dihiasi kaligrafi berwarna silver mengilat, dan dinding mimbar di lapisi walpaper kabah yang menutupi semua permukaan dinding. Aku mengambil salah satu mukena yang tergantung rapi di dalam lemari kaca. Aku memakai mukena tersebut, sekarang aku berniat untuk melaksanakan salat duha. Aku memulai takbirtul ikhram, betapa aku merasa menjadi makhluk paling hina di hadapan tuhanku, rukuk ku lakukan, dalam rukuk aku memohon ampunan  kepada Rabbku atas semua dosa yang telah aku lakukan, itidal ku lakukan sampai tib dengan sujud, entah kenapa ketika aku bersujud aku ingin meneteskan air mataku, aku teringat dulu ketika aku melakukan salat duha berjamah bersama  ayah. Hingga di penghujung salat aku memutuskan untuk berdoa kepada Rabbku.

‘ Ya Rabb, jagalah selalu orang tuaku, sayangi mereka sebagi mana mereka menyayangiku. Ya Rabb, tolong kau berikan kedamaian kepada ke dua orang tuaku, jangan kau pisahkan mereka. Ya Robb, tolong kau berikan kesadaran kepada ibuku, luluhkan hatinya, berilah kesabaran padanya agar dapat mrnjalani masalah yang kami hadapi. Ya Robb, hanya kepadamu hamba memohon, hanya kepadamu hamba meminta pertolonngan, tolong bantu hambamu ini Ya Rabb, tolong kau kabulkan semua doa hambamu ini, amiin ya robbal alamin’.

Setelah selesai, aku mengambil Al- Qur’an yang berada di rak, aku memutuskan untuk membaca Al-Qur’an sambil menunggu adzan dzuhur. Tak lama adzan dzuhur berkumandang, masjid mulai ramai denagan para guru dan para siswa yang akan salat,  aku memutuskan untuk kembali mengambil wudhu karena takut tanpa sepengetahuanku aku sudah batal.

Salat dzuhur telah selesai, aku membereskan mukenaku dan kembali menggantungkannya di lemari kaca. Aku keluar dari masjid, aku memutuskan mampir ke kantin untuk membeli makanan, karena makanan di kantin semuanya terjangkau. Aku membeli dua bungkus makanan untuk Ayah dan Ibu, aku yakin Ayah dan Ibu pasti senang aku belikan makanan.

Waktu menujukan jam empat sore, aku memutuskan untuk pulang karena pasti Ayah sudah menungguku di rumah, aku berjalan keluar halaman sekolah dan menunggu angkutan umum yang lewat karena hari sudah semakin sore jadi jarang sekali ada angkutan umum yang lewat. Sambil berjalan aku berpikir bagaimana caranya agar Ayah dan Ibu bisa baik seperti dulu. Akhirnya ada angkutan umum yang lewat.

Saat diperjalanan pulang aku melihat seorang ibu yang membawa anaknya dengan baju kumuh dan lusuhnya, sebenarnya Aku ingin membantu namun uangku sudah habis. Aku ingat ternyata Aku membawa 2 bungkus nasi tadinya nasi yang Aku bawa untuk Ayah dan Ibu namun hatiku tergerak untuk memberikan nasi bungkus itu untuk Ibu dan Anak yang sepertinya kelaparan itu. Aku pun turun dari ankutan umum yang aku tumpangi lagi pula jarak ibu itu dari letak rumahku tidak terlalu jauh.

Saat Aku mendekatinya nampaknya memang benar mereka sedang kelaparan karena anaknya terus menangis sambil memegang perutnya. Hati siapa yang tak tersentuh melihat ibu dan anak yang kelaparan dan menangis di pinggir jalan aku sempat ragu untuk memberikan 2 bungkus nasi itu. Namun aku ingat pesan ayah kata nya ” sebelum memikirkan diri sendiri pikirkan dulu orang lain yang lebih membutuhkan” aku tersenyum ketika mengingat nasihat nasihat ayah yang selalu memotivasi diriku. Saat aku bertanya “ibu kenapa si Adek ini sedari tadi menangis?” Ibu itu menjawab seraya menangis. Katanya “Anak saya sakit saya juga sakit ,saya dan anak saya tidak makan sudah hampir 2 hari”

Ya Allah tolong ibu dan anak ini. Aku terharu, ibu itu berbicara lagi katanya dia juga tidak mempunyai tempat tinggal yang layak. Ia tinggal di dekat tempat pembuangan sampah dengan hanya beralaskan kardus kardus bekas yang sudah kotor. Kata ibu itu, yang penting ia bisa tidur dan terlindungi dari teriknya sinar matahari. Bahkan katanya mereka makan mengambil dari tong sampah, Sangat tidak layak. Air mataku tak terbendung lagi mendengar cerita dari Ibu yang malang itu. Kemudian Aku peluk ibu itu, seketika aku merasakan pelukan hangat dari ketulusan seorang ibu. Aku jadi rindu Ibu hmmmmm..

Hari sudah semakin sore menuju larut cuaca pun sudah semakin dingin akhirnya Aku berikan 2 bungkus nasi dan minumnnya. Tadi akupun sempat pulang untuk mengambil jaket,uang dan beberapa barang yang sudah tak terpakai, walau tidak seberapa yang penting aku senang bisa membantu 2 spesies manusia yang membutuhkan. Akupun pamit untuk pulang. Sesampainya dirumah aku langsung membersihan badan ku dan dilanjut dengan shalat maghrib karena adzan sudah berkumandang.

************

Sedari tadi aku tidak melihat keberdaan Ayah dan Ibu. Perutku sudah keroncongan karena dari pagi tadi tidak ada yamg aku makan. Aku berdoa semoga ibu memasak ,saat aku menuju dapur Aku melihat Ayah sedang memasak masakan kesukaanku yaitu capcai! Tampaknya ayah tidak menyadari keberadaanku karena sedari tadi ayah sibuk memasak dengan ekpresi yng tidak bisa diartikan. Nampaknya ayah kesulitan dengan pergerakannnya. Bagaimana pun memasak cocoknya untung seorang ibu. Kata ayah jika nanti ibu pergi ninggalin kita Ayah akan jadi ibu untukmu juga.

Sekarang aku seperti hanya memiliki Ayah dan tidak memiliki Ibu. Bahkan sikap ibu dari hari ke hari semakin keterlaluan ia benar benar tidak menganggap Ayah ada. Kata ayah ibu sudah dari pagi tadi meninggalkan rumah. Ayah juga mendengar percakapan ibu dengan seorang lelaki bejat. Sikap ibu benar benar keterlalauan sekarang. Hatiku tak tega saat Ayah selalu menunjukan keceriaan didepan anaknya padahal hatinya bagai ditusuk beribu ribu duri. Kini ayah yang memegang beban sendiri. Tiap hari ayah selalu mencari pekerjaan tidak ada satupun yang menerima Ayah. Aku sekarang merasakan beban dari seorang ibu ternyata benar lelah letih. Mulai dari mengerjakan semua pekerjaan rumah kemudian memasak mencuci menggosok pakaian dan lainnya. Aku tak boleh mengeluh harus semangat membantu ayah.

Ayah memasak capcai dan nasi seadanya tidak apa aku tetap senang, aku beruntung memiliki ayah yang sangat baik. Aku dan ayah makan dengan sangat lahap hingga tidak tersisa sedikitpun. Setelah makan ayah memanggilku dan mengajak ku mengobrol singkat. Ayah tiba tiba merangkulku dengan wajah sedikit murung.

“Nak, maaf Ayah tidak bisa melayaki hidupmu. Maaf nak ayah gagal membuatmu menjadi orang sukses. Ayah tidak bisa memberikan kehidupan yang dipenuhi kesenangan. Maaf kan ayah nak” kata Ayah

“Ayah, fatimah tidak apa apa jika memang harus hidup seperti ini, fatimah senang jika fatimah bersama Ayah, fatimah bersyukur Allah ngasih fatimah Ayah sebaik Ayah. Fatimah yakin pasti ada jalan untuk menuju kesuksesan. Fatimah akan terus berusaha untuk menjadi orang yang berhasil dan mengangkat derajat keluarga kita agar tidak terus terusan dicemooh oleh orang banyak. Dan fatimah selalu berdoa agar Ayah dan ibu bisa bersatu seperti dulu lagi. Fatimah sayang Ayah” aku tak kuasa membendung air mataku lagi aku rindu keluargaku yang harmonis seperti dulu .

Akhirnya aku peluk Ayah dan aku tumpahkan beban yang selama ini aku tahan, aku rindu Ayah dan pelukan ayah yang dulu selalu aku dapatkan. Aku dan ayah memutuskan untuk tidur karena waktu sudah terlalu larut, dan besok aku harus menyiapkan segala sesuatunya untuk melakukan tes yang mungkin akan mengusras banyak tenaga walau masih 2 hari lagi namun apa salahnya jika mempersiapkannya dari sekarang.

Keesokan paginya aku mulai membiasakan mengganti peran ibu, sudah beberapa hari ini ibu tidak pulang kerumah, aku saja sampai bingung dibuatnya. Kasian ayah setiap pagi merenung memikirkan kemana perginya ibu, namun tak kunjung bertemu. Pagi ini aku memasakan bubur untuk ayah dan teh manis yang tidak manis kesukaan Ayah. Ayah tiap paginya selalu membaca koran untuk pengetahuan siapa tau ada pekerjaan yang cocok untuknya. Ayah bukan tipe orang yang patang menyerah ia mau melakukan apapun asalkan keinginannya tercapai. Hari ini aku habiskan hanya untuk belajar untuk menghadapi tes esok hari. Sedari tadi aku hanya diam dikamar dan membaca buku, kadang aku keluar jika ingin ke toilet atau lapar. Ayah saja sampai dibuat bingung karena aku tidak keluar kamar sama sekali. Aku sengaja tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut jika aku bilang nantinya aku tidak bisa mendapat beasiswa yang aku ikuti.

**************

Bersambung…

 

 

Penulis : Agita dan Suci

About the Author

SEKOLAH INTEGRASI ILMU ( SMA/MA) MERUPAKAN BOARDING SCHOOL TERBAIK DI PURWAKARTA