fbpx

Kata nuklir seringkali mengingatkan orang pada senjata nuklir atau bom atom. Padahal sejatinya kata nuklir merujuk pada bagian atau yang berhubungan dengan inti atom.

Sedangkan radiasi nuklir adalah radiasi yang dipancarkan oleh inti atom zat radioaktif.
Radiasi nuklir sudah lama dimanfaatkan dalam kehidupan. Dalam bidang kesehatan, radiasi nuklir digunakan untuk menampilkan gambaran bagian dalam tubuh melalui prosedur rontgen. Radiasi yang sangat intensif digunakan untuk sterilisasi alat-alat bedah dan obat-obatan tertentu. Selain itu, radiasi nuklir juga dapat dimanfaatkan untuk terapi kanker payudara dan kanker prostat.


Dalam bidang pangan, radiasi nuklir digunakan untuk menciptakan varietas tanaman unggul dan pengawetan makanan. Setelah diradiasi, rendang yang biasanya hanya tahan satu bulan bisa tahan sampai dua tahun. Radiasi nuklir juga digunakan untuk meradiasi bahan pembuatan vaksin penyakit masitis pada sapi perah. Produk-produk pangan yang memanfaatkan radiasi nuklir dinyatakan aman dikonsumsi karena dosis radiasinya pas.


Di tengah gencarnya upaya warga dunia untuk mengurangi penggunaan energi bahan bakar fosil, nuklir muncul sebagai salah satu alternatif energi yang sangat menjanjikan. Nuklir disebut-sebut sebagai sumber energi yang clean (bersih), cheap (murah), dan reliable (dapat diandalkan). Energi nuklir disebut bersih karena energi nuklir tidak menghasilkan polusi sehingga ramah lingkungan. Bahkan lebh ramah lingkungan daripada pembangkit listrik tenaga surya. Disebut murah karena dari segi ekonomi, energi nuklir kompetitif terhadap energi konvensional. Energi nuklir disebut dapat diandalkan karena dapat menghasilkan energi yang besar secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama


Namun, penggunaan nuklir sebagai energi alternatif bukan tanpa masalah. Tanggal 3 Maret 2011 terjadi bencana gempa berkekuatan 8,9 skala richter mengguncang Jepang yang diikuti oleh terjadinya tsunami. Gempa dan tsunami memicu kecelakaan reaktor nuklir Fukushima. Empat kota di Prefektur Fukushima menjadi kota terlarang, yaitu Okuma, Futaba, Tamioka, dan Namie karena tingkat kontaminasi yang tinggi yakni 1000 kBq/m2 hingga lebih dari 3000 kBq/m2. Tingginya paparan radiasi ini menyebabkan sekitar 146.520 orang mengungsi ke berbagai daerah. Pencemaran zat radioaktif yang dilepaskan oleh reaktor nuklir Fukushima dapat melalui udara, air hujan yang mengandung partikel zat radioaktif, dan air laut. Oleh karena itu, zat radioaktif tidak hanya mencemari Fukushima saja, namun juga beberapa daerah di Jepang. Bahkan zat radioaktif berhasil dideteksi di beberapa negara seperti Filipina dan Amerika.


Makanan dan minuman menjadi media pencemaran radioaktif. Oleh karena itu, pemerintah Jepang melakukan uji makanan dan minuman untuk mengetahui kandungan zat radioaktif di dalamnya. Pada tanggal 19 Maret 2011, pemerintah Jepang mengumukan ditemukannya kandungan zat radioaktif yang melebihi batas dalam beberapa makanan seperti bayam dan susu.


Pascabencana Fukushima, pemanfaatan nuklir sebagai sumber energi yang aman, murah, dan dapat diandalkan kembai diperdebatkan. Berbagai pihak menilai energi nuklir dapat membahayakan kehidupan manusia dan lingkungan dalam jangka panjang. Ancaman terjadinya kebocoran reaktor nuklir merupakan malapetaka yang menakutkan. Ledakan yang terjadi pada rekator nuklir bisa menimbulkan kontaminasi radioaktif yang sama dengan ledakan senjata nuklir. Namun di sisi lain, beberapa pihak berpendapat bahwa nuklir masih menjadi sumber energi yang penting bagi pembangunan ekonomi suatu negara. Pada tahun 1965 Presiden Sukarno menyatakan bahwa jika suatu negara ingin maju maka negara tersebut harus menguasai antariksa dan nuklir.


Bagi negara Jepang, bencana Fukushima merupakan ancaman nuklir kedua yang dialaminya. Yang pertama adalah setelah bom atom menghantam Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Selain menghancurkan kedua kota, ledakan bom tersebut menyebakan ratusan ribu orang meninggal dunia, menyisakan orang-orang yang sakit akibat paparan radiasi nuklir, dan ratusan anak lahir dengan sakita atau cacat bawaan.
Sebenarnya, setiap hari manusia selalu terpapar radiasi alam dari radiasi kosmik dan radiasi terestrial, terutama dari radionuklida primordial di kerak bumi yaitu uranium dan thorium beserta luruhannya. Secara alami, tubuh manusia memiliki mekanisme untuk melindungi diri dari kerusakan sel akibat radiasi. Namun, radiasi pada tingkatan tertentu tidak bisa ditoleransi oleh tubuh dengan mekanisme tersebut.


Dalam hal dampak (efek) radiasi terhadap manusia, terdapat istilah efek somatik non stokastik (efek deterministik) dan efek somatik stokastik. Pada efek deterministik tingkat keparahan akibat radiasi tergantung pada dosis radiasi yang diterima. Oleh karena itu, diperlukan suatu nilai ambang yang jika dosis yang diterima di bawah nilai ambang maka tidak akan ada akibat yang merugikan. Sedangkan pada efek somatik stokastik tidak ada nilai ambang. Artinya, sekecil apa pun dosis radiasi yang diterima oleh seseorang, risiko terhadap radiasi selalu ada.
Menurut Dr. Manny Alvarez, editor kesehatan Foxnews Health, ada tiga faktor yang mempengaruhi dampak radiasi nuklir. Ketiga faktor itu adalah jumlah radiasi yang dipancarkan, jarak ke sumber radiasi, dan seberapa lama korban terpapar radiasi.
Radiasi yang tinggi bisa langsung memicu dampak sesaat yang langsung bisa diketahui, sementara radiasi yang tidak disadari bisa memicu dampak jangka panjang yang biasanya malah lebih berbahaya. Dampak sesaat atau jangka pendek akibat radiasi tinggi di sekitar reaktor nuklir antara lain mual muntah, sakit kepala, dan demam. Sementara itu, dampak yang baru muncul setelah terpapar radiasi nuklir selama beberapa hari di antaranya pusing, mata berkunang-kunang, disorientasi, letih dan tampak lesu, kerontokan rambut dan kebotakan, serta luka yang susah sembuh.


Dampak kronis alias jangka panjang dari radiasi nuklir umumnya dipicu oleh tingkat radiasi yang rendah sehingga tidak disadari dan tidak diantisipasi hingga bertahun-tahun. Beberapa dampak mematikan akibat paparan radiasi nuklir jangka panjang antara lain kanker, gangguan sistem saraf , dan gangguan sistem reproduksi.
Paparan radiasi pengion pada tubuh manusia bisa menimbulkan sitogenetik pada sel yaitu kerusakan pada komponen genetik sel seperti DNA dan kromosom. Kerusakan akibat adanya interaksi radiasi pengion dengan sel ini akan mengalami proses perbaikan secara spontan dan apabila proses perbaikan tidak berlangsung dengan baik dapat mengakibatkan mutasi atau kematian sel.
Target utama paparan radiasi adalah DNA. Radiasi dapat menumbulkan kerusakan DNA secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu bentuk kerusakan DNA adalah terjadi patahan pada strand DNA yang disebut double strand break (DSB). Pembentukan DSB merupakan kerusakan kritis akibat radiasi yang dapat mengarah pada terjadinya perubahan sruktur kromosom. Gagalnya proses perbaikan DSB dapat menyebkan terjadinya mutasi pada gen.


Selain menyerang fisik manusia, bencana nuklir juga mengganggu psikologis. Gangguan psikologis ini bisa bersumber dari kepanikan akan terpapar radiasi, meninggalkan kampung halaman karena harus mengungsi, atau hilangnya pekerjaan dan kesempatan ekonomi.
Pemanfaatan teknologi nuklir secara positif di berbagai bidang, seperti kesehatan, pangan, dan energi dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Namun, seperti halnya sebuah teknologi, teknologi nuklir juga memiliki potensi bahaya berupa radiasi yang tidak terkendali. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi radiasi nuklir ini harus dilaksanakan dan diawasi dengan saksama agar potensi bahaya itu tidak terjadi.

Daftar Pustaka
Sarijati, Upik. 2018. Risiko Nuklir dan Respon Publik terhadap Bencana Nuklir Fukushima di Jepang. Jurnal Kajian Wilayah, 9(1). Diakses tanggal 18 September 2020 (https://jkw.psdr.lipi.go.id/index.php/jkw/article/view/785)
Prayitno, Budi. 2008. Kedaruratan Nuklir di Indonesia dan Penanggulangannya. PIN Pengelolaan Instalasi Nuklir, 1(1). Dikases tanggal 18 September 2020 (http://jurnal.batan.go.id/index.php/pin/article/view/2547)
A., Zubaidah, dkk. 2012. Respon Sitogenetik Penduduk Daerah Radiasi Alam Tinggi di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia, 13(1), 13-26. Diakses 19 September 2020 (http://jurnal.batan.go.id/index.php/jstni/article/view/932)
Sukir, Sunaryo Soenarto. 1993. Bahaya Nuklir PLTN Terhadap Lingkungan: Suatu Antisipasi Pencegahan. Cakrawala Pendidikan, 2(2). Diakses 19 September 2020 (https://journal.uny.ac.id/index.php/cp/article/view/8967)
[Anonim]. 2011. Bahaya-bahaya Kesehatan Jika Terkena Radiasi Nuklir. Diakses 18 September 2020 (https://health.detik.com)

By Ayi Nur