fbpx

Aku memiliki wajah yang sensitif: berjerawat,ruam, dan merah-merah. Hal itu kualami saat aku mulai beranjak dewasa. Jerawat-jerawat itu menjadi banyak dan aku mulai merasa terganggu dengan rasa perih, gatal, dan yang paling membuatku merasa risih adalah ocehan dari beberapa temanku yang berpendapat bahwa “mukanya Melva jadi jerawatan, jelek, dan kusam.”

Tak sengaja aku mendengar hal itu saat melewati beberapa temanku yang sedang berbincang seperti itu. Aku pernah berpikir, semua orang akan merasakan hal yang sama sepertiku, hanya saja waktunya yang berbeda. Toh, setiap orang mempunyai hormon dan masa pubertas yang berbeda. Akhirnya, aku pun bercerita kepada mamah bahwa aku merasa tidak nyaman dengan kondisi wajah seperti ini, ditambah cemohan dari beberapa teman yang berkomentar soal wajahku.

Aku menangis, aku ini tipe anak yang cukup mudah terbawa suasana saat itu. Mamah hanya bisa menasihati dan mengingatkanku agar aku terus bersabar “gak apa-apa Ka, ini emang hormon kamu lagi naik aja, bisa juga pengaruh dari airnya kotor, kalau masalah temen-temen yang ngomongin gitu mah biarin aja, ga usah didengerin. Kuncinya kamu sabar. Gausah dengerin apa kata orang.” Setelah mamah berbicara seperti itu aku cukup tenang karena telah diyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Aku sempat berpikir, mengapa mereka berkata seperti itu, ya? Bukankah semua orang akan mengalami hormon yang sama pada masanya? Harusnya mereka berpikir sebelum bicara, bahwa orang yang mereka bicarakan tersebutakan sakit hati atau tidak? Bisa-bisa orang yang mereka bicarakan tersebut menjadi tidak percaya diri lagi. Menurutku, harusnya mereka memneri semangat agar aku tetap percaya diri dengan kondisi wajah seperti itu dan merekapun harusnya semakin banyak bersyukur karena wajah mereka baik-baik saja, tidak sepertiku. Paling tidak mereka memberiku saran untuk merawat wajah agar selalu bersih dan tidak jerawatan lagi.


Namun, hal itu hanya ku alami saat SMP, beranjak SMA wajahku kembali bersih dan tidak berjerawat lagi. Cemohan mereka memberiku pelajaran, bahwa kita tidak boleh membicarakan kekurangan seseorang apalagi yang berhubungan dengan fisik. Karena perasaan dan tanggapan orang berbeda-beda, bukankah kata-kata yang menyakiti hati akan terus membekas? Toh, ia akan terus merasa sakit hati dengan ucapan tersebut.


Menghadapi kejadian yang pernah kualami mengingatkanku pada berita di instagram, tepatnya Bbc.com: Mahasiswa Papua bicara soal Realisme ‘Ih kalian bau’ dan tudingan minum oleh Callistasia Wijaya dan Heyder Affan melalui Wartawan BBC News Indonesia,23 Agustus 2019. Iya, tentunya rasisme yang kualami tak sebanding dengan rasisme terhadap orang Papua.


Mereka diolok dengan kata-kata yang tidak pantas. Mulai dari dikatai bau, dituding minum, dituduh mencuri, dicela, dan dibeda-bedakan berdasarkan warna kulit dan garis muka. Sangat tidak adil bukan ? padahal Orang Papua juga masih rakyat Indonesia. Lalu, Rasisme terhadapnya terlebih hinaan karena tampang dan fisik masih saja kita temukan.


Tak jarang, Beberapa mahasiswa asal Papua yang berkuliah di Jakarta mengalami Rasis oleh teman-teman dan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Salah seorang di antara mereka adalah Tasya Marian. Dari wamena, sebuah kota yang terletak di pedalaman pegunungan Papua, ia pindah ke Jakarta demi menimba ilmu menjadi pengacara. Tekadnya bulat karena yakin bersekolah di Pulau Jawa akan membantunya lebih fokus mengejar mimpinya .

Di Papua, kata Tasya “warga terus dihadapkan dengan berbagai masalah.”
Perempuan berusia 22 tahun itu kemudian masuk ke sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta Selatan. Tempat dia menempuh studi pada jurusan hukum pidana “dengan itu saya bisa menyelesaikan kasus-kasus yang selalu terjadi di Papua.” Katanya, kita sebagai rakyat Indonesia hafal Pancasila dari 1-5. Lalu,apa itu yang di sebut Pancasila, yangdi sebut kemanusiaan yang adil dan beradab, semboyan Indonesia Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu.

Lalu, mengapa Rasis dan Diskriminasi semakin menyeruak di antara kita? Seharusnya kita sebagai rakyat Indonesia saling menghormati,menyayangi,dan menghargai kepada sesama manusia. Baik itu yang berkulit hitam, berkulit putih, dan berkulit langsat.
Tuhan menciptakan kita itu sama, Kita diciptakan sama-sama dari tanah, dan kembali lagi ke tanah. Lalu, mengapa harus membeda-bedakan? Tuhan saja yang memiliki seluruh alam semesta ini tidak membeda-bedakan umat nya, masa kita mahluk yang lemah dan membutuhkan orang lain berlaga paling sempurna dan membutuhkan orang lain berlaga berani menjatuhkan dan menghina kekurangan fisik orang lain.


Jadi, selaras dengan pendapat Tasya. Kita sebagai rakyat Indonesia harus mengamalkan sila ke-2 dalam pancasila agar kita terhindar dari perilaku dan perbuatan yang tidak baik seperti rasis dan diskriminasi. Kita juga harus banyak bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan, saling menghargai kepada sesama manusia meskipun berbeda ras, suku, dan budaya. Kita harus tetap saling menghargai dan saling menghormati.
Jika Indonesia mau maju, jangan ada lagi rasis, penindasan dan juga diskriminasi yang terjadi pada kita semua. Terspesial, berhenti memandang orang di luar ras kita dengan perbedaan (khususnya dalam memandang orang Timur) .

By Ayi Nur