fbpx

Baru -baru ini, selepas lockdown Covid -19 akun Instagram @bandung.updated dibanjiri komentar warga net karena antrean warga yang ingin bercerai, tampak di depan pengadilan agama Soreang, Kab. Bandung, Jawa Barat, belasan bahkan puluhan penggugat cerai antre dengan sabar.
Dikutip dari TribunPekanbaru.com, saat dihubungi kompas.com, panitera muda gugatan pengadilan agama Soreang, yaitu Ahmad sadikin berkata “ Rata -rata setiap hari memang penuh, biasanya Senin, Selasa, Kamis yang penuh “ Ahmad menjelaskan antrean tersebut terjadi lantaran ruang sidang yang terbatas, sementara para pengaju gugatan cerai terbilang cukup tinggi. Sungguh menarik fenomena antrean para pegugat cerai. Namun, bukan maslah percerain yang akan dibahas, melainkan budaya antre yang dilakukan oleh para pegugat yang menjadi daya tarik pembahasan lebih mendalam.


Antre sejatinya tentang baris berjajar ke belakang untuk menunggu giliran, kita bisa melakukan antre dalam kegiatan apapun, dan antre menjadi salah satu terciptanya ketertiban. Sedangkan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, antre adalalah baris berderet-deret memanjang untuk mendapat giliran. Antre adalah kebudayaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui perilaku sehari -hari generasi yang lebih tua sebagai rujukan awal.


Sebenarnya, budaya antre sudah lama dikenal dan dipelajari sejak lama sekali. bahkan mungkin ada sejak zaman purba, he.

Memang, dahulu kala apabila tidak mau mengantre pasti akan beradu tongkat atau batu, dikutip dari Brainly.co.id. Biasanya yang identik dengan mengantre itu adalah santri. Sebab, banyaknya santri menjadikan santri harus bergantian menggunakan fasilitas apa pun dengan cara mengantre, seperti ke kamar mandi. Tidak hanya mengantre ke kamar mandi masih banyak kegiatan yang lainnya yang harus mengantre juga: seperti mengantre mengambil makan, mengantre untuk, wudhu, mengantre untuk talaran, dan masih banyak lainnya.


Jika dipikir-pikir mengantre itu adalah hal yang sederhana dan mudah untuk dilakukan, tetapi tidak semua orang mau melakukakannya. Padahal, antre ini sangat bermanfaat untuk kepentingan umum, hanya kesabaran dan kemauan yang diperlukan.
Namun, yang menjadi permasalahan Negara Indonesia dapat dibilang berbanding jauh dalam hal budaya antre. Seperti yang bisa kita lihat, di Indonesia sulit sekali mewujudkan suatu ketertiban dengan mengantre, padahal ini bisa menjadi masalah besar bagi kita bangsa Indonesia apabila tidak dibiasakan untuk mengantre.


Lihat saja, pada 19 Agustus 2011 dikutip dari Liputan6.com, Pekalongan: Pembagian sembako gratis bagi kalangan masyarakat miskin selalu memakan korban. Kali ini terjadi di Pekalongan, Jawa Tengah. Niat baik untuk membantu malah makan korban karena tidak tertibnya antre, padahal apabila tertib antre akan lain ceritanya.

Berbeda dengan di Indonesia, di Jepang budaya antre sudah ditanamkan sejak sekolah dasar, dari antrean akan mendapat pelajaran yang didapat, sehingga nantinya akan mempengaruhi ke nilai-nilai positif lainnya dalam kehidupan sehari -hari. Itu mengapa Negara Jepang menjadi Negara maju dan tertib dan tak jarang sebagai negara rujukan disiplin.
Bukan berarti membandingkan Jepang dengan Indonesia. Namun, budaya antre yang sering dilakukan di Jepang bisa menjadi contoh bagi bangsa kita agar menjadi lebih tertib dan disiplin.


Pernah, pada tanggal 24 Agustus 2020 saat ada pemeriksaaan mata gatis di Pondok Pesantren Al-Muhajirin semua santri antre dengan rapi untuk menunggu giliran. Padahal jumlah santri tak kurang dari 600, tetapi dapat disiplin dan sabar menunggu giliran. Rata-rata waktu yang dibutuhkan setiap santri untuk pemeriksaan tersebut antara 5-10 menit. Namun, santri tetap semangat dan bahagia antre untuk pemeriksaan mata.
“Saya sangat antusias mengikuti pemeriksaan ini, iya barangkali bisa jadi tahu mata saya minus atau tidak. Sebab akhir-akhir ini, apabila melihat papan tulis tidak jelas,” kata Hilma salah satu santri.


Jelas, hal tersebut pun bisa menjadi contoh untuk kita agar menjadi lebih tertib dan disiplin tanpa perlu ada kerusuhan. Tidak mengurangi antusiasme, santri tetap semangat mengantre guna pemeriksaan mata.
Kemudian, saat tabarukan ‘mencari berkah’ rambut Rasul pun lebih dari 1000 warga pondok Pesantren Al-Muhajirin dapat antre menunggu giliran guna mencium rambut Rasul. Tentu saja, semua orang rela antre untuk mendapat berkah dari Rasul.

“Santri itu hampir di semua aktivitas dan rutinitasnya terbiasa mengantre. Apabila tidak mengantre dan dengan sengaja curang menerobos, paling diteriaki ratusan orang dan itu sangat memalukan. Jika itu terjadi menunjukan ketidakdisiplinan dan masih belum membedakan antar yang benar dan salah.

Jadi, antre bagi santri sudah menjadi keniscyaan, ungkap Aliza salah satu santri ketika diminta berpendapat mengenai “antre”.

Dari hal- hal tersebut kita bisa mengambil pelajaran, apabila ingin Negara Indonesia menjadi Negara yang tertib, kita harus mencoba dari hal yang terkecil yaitu mengantre, karena apabila hal terkecil tersebut saja tidak bisa kita lakukan bagaimana dengan masalah yang lebih besar. Maka dari itu jangan pernah menyepelekan budaya mengantre yang bisa bernilai lebih besar bagi kehidupan sehari -hari.(Ed)

By Ayi Nur