fbpx

Bumi adalah planet ke 3 dari matahari setelah venus. Tercipta dari air dan beberapa unsur kimia yang kompleks, seperti Oxygen(O), Silicon(Si), Alumunium(Al), Iron(Fe), Calcium(Ca), Sodium(Na), Pottasium(k), Magnesium (Mg). Susunan kompleks ini menjadikan bumi planet yang dapat melangsungkan kehidupan. Mulai dari manusia, hewan, tumbuhan, dan benda alami lainnya hidup dan berkembang biak dibumi. Kehidupan ini terjadi karena adanya makhluk hidup yang tinggal disuatu daerah. Daerah akan terbentuk karena adanya proses pergerakan fondasi-fondasinya. Pergerakan ini terjadi, tidak lain oleh faktor yang datang dari dalam maupun luar. Tidak ada yang paham selain alam itu sendiri. Semua bergerak sesuai alurnya, mengikuti intruksi alam.

Alam yang ada saat ini jauh berbeda dengan alam yang dirasakan nenek moyang kita. Dahulu alam ini masih segar dan asri, setiap oksigen yang dihirup masih terasa alami tanpa ada campuran zat kimia, seperti gas Metana(CH4), Karbondioksida(CO2), kloroflourinkarbon(CFC), dan Nitrogen Oksida(NOx) yang kita rasakan saat ini. Mungkin kita tidak menyadari adanya kandungan gas itu, tapi fenomena gas rumah kaca atau GRK menyadarkan kita mengenai telah terkontaminasinya oksigen bumi.

Rumah kaca adalah fenomena peningkatan gas rumah kaca, seperti, CH4, CO2, CFC, dan NOx di atmosfer. Gas-gas ini muncul disebabkan beberapa faktor diantaranya sebagai berikut:

  1. Pembakaran  hutan, lahan, fossil dan tambang batu bara
  2. Penggunaan alat pendingin (Freon)
  3. Penumpukan sampah dan kotoran hewan ternak

Ketika sinar ultraviolet masuk ke bumi, sinar ini diserap tanah dan laut untuk menghangatkan bumi. Sebagian sinar dipantulan kembali ke atmofer karena merasa telah cukup bagi bumi. Namun, adanya gas rumah kaca atau GRK membuat sinar ini terperangkap didalam bumi, akibatnya suhu bumi meningkat. Seperti yang dilansir tim posbelitung.co, 2017 bahwa: Pada November 2016, kenaikan rata-rata suhu perairan laut 0,76 derajat celsius dibandingkan 30 tahun sebelumnya. “Di Indonesia, kenaikan suhu laut per tahun 0,01-0,02 derajat celsius,” kata Alan (ahli kelautan IPB).

Efek dari kenaikan suhu ini disebut efek rumah kaca atau ERK. Apa sih rumah kaca itu? Rumah berbentuk kacakah? Bukan, rumah kaca yang dimaksud bukanlah rumah yang terbentuk oleh kaca, melainkan sebuah perumpamaan kondisi bumi saat ini seperti rumah yang terkurung kaca, dimana ketika sinar masuk dari satu celah akan dipantulkan dan terpantulkan kembali seperti dua buah cermin yang disorot lampu, maka sinar lampu tadi akan terus terpantulkan oleh dua buah cermin sehingga menyebabkan sinar ini terkurung diantara dua buah cermin.

Tidak akan ada dampak negatif ketika  penggunaan GRK secara normal. Karena sejatinya bumi ini butuh akan GRK dalam keadaan seimbang. Tapi, di abad 20 ini ketergantungan manusia terhadap alat-alat elektronik menyebabkan emisi gas rumah kaca semakin bertambah banyak. Akibatnya, keseimbangan alam pun terganggu dan memunculkan bahaya dimasa yang akan datang di antaranya:

  1. Peningkatan suhu bumi
  2. Lapisan ozon menipis
  3. Sistem saraf manusia terganggu
  4. Perubahan iklim tidak menentu

Padahal 14 abad yang lalu nabi SAW bersabda:

لا ضرر و لا ضرار

Artinya: “Janganlah engkau membahayakan dan saling merugikan”(H.R. ibnu Majah dan Imam Malik)

Sebagian ulama berkata : “Yang dimaksud dengan kamu membahayakan yaitu engkau merugikan orang yang tidak merugikan kamu. Sedangkan yang dimaksud saling merugikan yaitu engkau membalas orang yang merugikan kamu dengan hal yang tidak setara dan tidak untuk membela kebenaran”.

Fenomena ERK dihasilkan dari aktivitas manusia abad 20 yang ketergantungan alat-alat elektronik untuk melangsungkan hidup. Menurut hadist diatas hal ini dimaksud dharar (ضرر) yaitu kita merugikan sesuatu yang tidak merugikan kita. Seperti halnya alam yang selalu memberikan manfaat untuk kita, tapi tanpa kita sadari aktivitas yang kita lakukan ternyata merugikan alam hingga efek itu menjadi boomerang terhadap aktivitas kita. Walau efeknya belum terlalu kita rasakan, tapi setidaknya saat ini kita tahu, peristiwa mencairnya gunung es di kutub utara sedikitdemi sedikit adalah salah satu bukti kecil adanya efek rumah kaca ini.

Bayangkan, ketika peningkatan suhu terus terjadi sampai 20 atau 30 tahun kedepan. Mungkin beberapa madharat akan terus bermunculan, apalagi tanpa sebuah pergerakan untuk mencoba mengurangi emisi gas rumah kaca demi kelangsungan hidup generasi penerus. Akankah setelah fenomena mencairnya gunung es dikutub utara bisa menjadikan samudra dan lautan yang ada  ikut mendidih?

Jawabannya bisa Ya atau Tidak. Sebab, menurut ilmu Kimia suatu cairan apabila sudah melebihi batas titik didih akan mengalami dua peristiwa, mendidih dan menguap. Perbedaan dari keduanya dilihat dari jumlah molekul air yang bereaksi. Untuk pendidihan, seluruh molekul air yang ada di wadah bereaksi. Sedangkan  penguapan, hanya molekul yang berada dipermukaan atas yang akan bereaksi.

Proses penguapan bisa kita perhatikan dari siklus air yang terjadi setiap musim hujan. Air yang terangkat akan kembali turun dan menemui titik awalnya. Dalam proses ini, kita akan mengenali istilah evaporasi. Suatu proses penguapan air laut yang dibantu sinar matahari. Uap-uap tersebut akan terbang ke langit dan berkumpul membentuk awan. Semakin banyak uap yang berkumpul, maka awan akan diintruksi untuk berkondensasi (mengembun) -mengubah partikel gas menjadi cair. Dari proses inilah hujan turun dan selanjutnya akan seperti itu.

Tidak heran jika air yang ada dilaut bumi tidak pernah terlihat kurang. Walaupun penggunaan air ini bisa dikatakan sering dimanfaatkan oleh manusia. Namun, adanya proses evaporasi dan kondensasi  mengakibatkan air bumi tetap tersedia. Berapa pun volume air yang digunakan, siklus air ini akan membantu menjaga keseimbangan jumlah air.

Lain halnya dengan pendidihan. Proses ini bisa kita amati saat merebus air. Sama seperti penguapan. Partikel air yang renggang dirubah menjadi partikel yang lebih renggang (gas), hal ini ditandai dengan munculnya gelembung-gelembung air. Bedanya, pendidihan memiliki tekanan uap yang lebih besar dari tekanan udara. Jadi, ketika gelembung bertambah besar, volume uap juga bertambah besar dan mengakibatkan kerapatan uap menjadi berkurang sehingga gelembung pun pecah. Selain itu, faktor lain yang memengaruhi adalah titik didih. Titik didih air jenuh berbanding terbalik dengan daerah yang kita tempati. Semakin rendah suatu daerah maka titik didihnya akan tinggi. Begitupun sebaliknya, ketika kita berada didataran tinggi maka titik didihnya akan rendah atau cepat mendidih.

 

Peristiwa ini relevan dengan pemanasan global (gobal warming) yang ada dibumi. Sangkaan pendidihan laut dan samudra pun tidak mungkin terealisasikan. Selain jumlah airnya yang banyak, laut yang merupakan dataran rendah akan sulit mengalami proses pendidihan. Sebab, seluruh partikel air yang ada di laut tidak dapat bereaksi seluruhnya karena laut berada didataran rendah. Untuk  mencapai titik didih dataran rendah sangat butuh waktu yang lama.Walaupun laut bisa menguap untuk melakukan siklus air dalam waktu yang relatif sebentar. Tapi, untuk mendidihkannya butuh waktu yang lama. Dengan hal ini, tidak akan ada yang namanya pendidihan air laut dan samudra.

Rupanya hal ini pun menarik perhatian pemerintah. Bahaya-bahaya yang akan terjadi dimasa depan menjadi focus pemerintah untuk berusaha menurunkan emisi gas rumah kaca. Seperti yang terlansir di tirto.id, 2018 bahwa: Pemerintah Indonesia merencanakan penurunan emisi gas rumah kaca. Hal itu telah berhasil dilaksanakan. Sesuai laporan Direktur Inventarisasi gas rumah kaca dan Pengukuran, Pelaporan dan Verifikasi (MRV) KLHK Joko Prihatno.  ”Indonesia telah berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 8,7% pada 2016 dari target penurunan sebesar 29% pada 2030 atau 26% pada 2020 berdasarkan skema Business As Usual (BAU)”.

Sebagian besar penurunan emisi gas rumah kaca ini ditujukan kepada pemilik pabrik industri, seperti pabrik-pabrik semen dan tambang batu bara. Mereka diimbau agar tidak terlalu sering menggunakan gas karbondioksida(CO2) dalam memproduksi barang. Mencari alternatif seperti Pabrik Tuban Semen Indonesia, yang menurunkan emisi gas buang karbon melalui penggunaan bahan bakar alternatif biomasa, bisa jadi contoh untuk kita agar bisa merealisasikan rencana pemerintah.

Kita bisa bernapas lega, karena upaya pemerintah bisa berjalan hampir memenuhi harapan. Sekaligus kita bersyukur dengan adanya gerakan ini, bahaya dari efek rumah kaca yang diwanti-wanti bisa sedikit diminimalisir. Setidaknya kita masih bisa merasakan masa tua dibumi pertiwi ini dengan sedikit keasrian yang alam sediakan. Bayangkan, bagaimana rasanya jika kita hidup dengan dikelilingi gas-gas berbahaya yang bisa saja merenggut nyawa kita jika kita terlalu sering menghirupnya.

Namun, bukan karena kita tidak memiliki pabrik diam saja. Justru, rencana besar pemerintah ini diawali langkah kecil setiap individu masyarakatnya, kita bisa mengawalinya dengan kesadaran ingin ikut serta merealisasikan rencana pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca guna melestarikan alam ini untuk generasi penerus. Sedikit demi sedikit kita harus mulai mengurangi akitivitas dan penggunaan hal-hal yang dapat meningkatkan gas rumah kaca, seperti pembakaran lahan terbuka, penggunaan freon yang berlebihan, tambang batu bara, pembakaran minyak dan fossil serta membuang sampah sembarangan.

Dengan begitu kita harus lebih bijak lagi dalam bertindak. Melakukan hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya secara berkelanjutan. Sebab hal kecil yang berkelanjutan akan menjadi hal yang besar suatu saat. Begitupun dengan tindakan kita untuk merealisasikan rencana pemerintah untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Saat ini mungkin hanya kita (sebagian kecil) yang sadar akan pentingnya rencana pemerintah dan besok mereka. Hingga suatu saat, semua orang tersadar akan efek peningkatan gas rumah kaca dan upaya pemerintah untuk menguranginya.

penulis : Nabil Husnan Azmy 12 MIPA I (2020)

Daftar pustaka:

(2017, Januari 20). Diambil dari  POSBELITUNG.co: https://belitung.tribunnews.com/2017/01/20/tahun-2016-tahun-terpanas-dalam-sejarah-ini-suhu-rata-rata-bumi

(2018, Desember 12). Diambil dari Tirto.id: https://tirto.id/upaya-sektor-industri-turunkan-emisi-gas-rumah-kaca-dbLp

An-Nawawi, I. (2016). Terjemah Hadist Arba’in. Pustaka Nun.

Augesti, A. (2019, Februari 22). Diambil dari Liputan6: https://www.liputan6.com/global/read/3901361/pemanasan-global-bisa-picu-seluruh-lautan-di-muka-bumi-mendidih

Sudarmo, U. (n.d.). KIMIA kelas XI. Erlangga.

Syam. (2009, Juni 10). Diambil dari  wordpress.com: https://arbainnawawiyah.wordpress.com/2009/06/10/hadits-ke-32/

By Ayi Nur