fbpx

Sebagai santri sudah tidak asing lagi mendengar istilah barokah bahkan bisa dikatakan bukan seorang santri jika tidak tahu barokah, setidaknya walaupun tidak tahu makna mendalam tentang barokah, istilah tersebut tidak asing lagi ketika didengar. Maka dari itu tidak heran jika memasuki kawasan santri, ataupun suatu tempat yang mayoritas penduduknya adalah santri sering sekali terdengar kata barokah.

Kata barokah menurut bahasa adalah karunia bertambahnya kebaikan. Dan menurut syariat, kebaikan dari Allah kepada sesuatu. Adapun manfaat adalah salah satu dampak dari barokah tersebut. Barokah atau berkah oleh para ulama yang mula-mula menyebarkan islam di Indonesia disimbolkan dengan “berkat” atau oleh-oleh yang dibawa dari acara hajatan atau tasyakuran.

Dalam Al-Qur’an awal surat Al-Mulk menegaskan bahwa Allah SWT merupakan sumber barokah

 تَبَارَكَ الّذي بیَدِهَ المُلكُ وھو على كُلَّ شيءٍ قدیرٌ

Maha Suci (Maha Barokah) Allah  yang di tangan-Nya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dalam surat Al-Anam ayat 155 menyatakan bahwa Al-Qur’an juga merupakan sumber barokah

و ھذا كِتَابْ اَنزَلناهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ و اتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan Al-Qur’an ini adalah kitab barokah (yang diberkati) yang kami turunkan, maka ikutlah (ajarannya), dan bertaqwalah agar kamu disayangi (oleh Allah).

Dari kata barokah turunlah istilah tabaruk. Tabaruk adalah istilah yang terkenal di kalangan umat Islam Indonesia yang bermakna mengambil berkah. Dalam kalangan santri tradisi tersebut biasanya berupa meghabiskan makanan atau minuman sisa para kiai atau orang alim lainnya. Bisa diartikan tabaruk tidak lain adalah tawasul kepada Allah dengan objek yang dijadikan tabaruk baik peninggalan, tempat, atau orang.

Adapun tabaruk dengan orang-orang soleh karena meyakini keutamaan dan kedekatan mereka kepada Allah dengan tetap meyakini ketidak mampuan mereka memberi kebaikan atau menolak keburukan kecuali atas izin Allah. Oleh karena itu, berkah hanya datang dari Allah, sebesar apapun sehebat apapun orang soleh jika Allah tidak menghendakinya maka tidak akan terjadi.

Adapun golongan Wahabi membantah jumhur ulama, mereka mengatakan bahwa tabaruk terhadap makhluk Allah adalah perbuatan syirik atau menyekutukan Allah. Di Indonesia sudah menjadi adat untuk bersalam kepada yang lebih tua, dalam hal ini pula Wahabi berpendapat bahwa yang patut dihormati hanyalah Allah. Menurut mereka sesama manusia tidak perlu merendahkan diri sekalipu di hadapan seorang guru.

Tentu saja hal itu sangat bertentangan dengan jumhur ulama, karena tabaruk itu sendiri telah ada dari zaman para sahabat. dalam beberapa hadis dikisahkan bahwa Khalifa Khalid bin Walid kehilangan mahkota sorbannya ketika perang Yarmuk, kemudian dicarinya sampai ketemu, Khalid bin Walid pun mengisahkan asal mula mahkota sorban tersebut

Berkata Khalid bin Walid : Rasulullah SAW pernah berumroh kemudian beliau mencukur rambutnya, maka para sahabat berebut rambut tersebut dan akulah pemenangnya. Aku letakan rambut tersebut di mahkota sorbanku. Maka aku tidakberperang dengan memakai mahkota sorbanku itu kecuali aku diberikan kemenangan.

Hadis lainnya menyebutkan, dari Zara ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku Abdil Qais, beliau berkata “ketika kami sampai Madinah, kami segera turun dari kendaraan lalu mengecup tangan dan kaki Nabi SAW” (HR.Abu Dawud : 4548). Hal ini disampaikan oleh ketua cabang IPNU Kebumen dalam artikelnya.

Contoh lain yang membuktikan bahwa melalui manusiapun kita dapat meraih keberkahan. Suatu hari ada tiga orang preman licik yang haus harta dan kepuasan, apapun akan mereka lakukan untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Karena otaknya yang licik, 3 orang preman ini merencanakan sesuatu. Akhirnya mereka pergi ke suatu rumah dan di sekitar tempat itu tidak ada rumah selain rumah tersebut. Dengan percaya dirinya 3 orang itu menyamar menjadi seorang ustad yang sedang kehabisan bekal di tengah perjalanannya.

Dalam rumah mungil ini hiduplah sepasang orang tua dan 1 orang anak yang sedang sakit keras. Tidak ada satu obatpun yang dapat menyembuhkan penyakit itu, dan tidak ada dokter manapun yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Orang tua si anakpun sudah tidak tahu harus kemana lagi dan harus bagaimana lagi, keduanya hanya bisa berdoa dan bertawakal kepada Allah.

Hingga suatu hari, ada 3 orang yang mengetuk pintu rumahnya, salah satu dari tiga orang tersebut berkata “tolonglah kami, kami adalah orang alim yang kehabisan bekal di perjalanan”. Dalam hati, sang ayah berkata “aku yakin yaAllah, ini adalah jalan yang Engkau tunjukan kepadaku untuk menyembuhkan penyakit anakku, semoga dengan aku melayani orang-orang alim ini anakku sembuh dengan berkah yang Engkau berikan melalui orang alim ini”.

Dengan senang hati dan penuh harapan, keluarga kecil ini menyambut tiga orang ustad tersebut dengan sambutan dan pelayanan yang hangat dan memuaskan. Semua makanan dan minuman yang ada dan paling mewah disuguhkan kepada tiga orang ustad ini, dengan rasa yakin bahwa Allah akan memberikan keberkahan kepada keluarganya terutama penyakit anaknya.

Setelah selesai makan, minum, dan singgah, ketiga orang itu berpamitan untuk pulang dan beterimakasih atas pelayanannya. Namun sang ayah malah berkata “seharusnya kami yang berterimakasih kepada kalian bertiga, kami senang sekali rumah kami bisa kedatangan orang alim seperti kalian. Sisa-sisa makanan dan minuman kalian selalu kami berikan kepada anak kami yang sedang sakit keras. Alhamdulillah anak kami bisa sembuh karena berkah yang ada di dalam makanan dan minuman bekas orang alim”.

Mendengar perkataan tersebut, tiga orang ini menangis seraya meminta ampun kepada Allah. Orang tua tadi terheran, mengapa tiga orang ini menangis sambil beristighfar. Kemudian 3 orang ini mengaku kepada keluarga kecil yang telah mereka bohongi “Maaf, sebenarnya kami bertiga bukanlah ustad atapun orang alim, kami hanya preman yang jahat dan licik, kami ke rumah ini hanya ingin makan agar kami kenyang. Namun betapa berhusnudzonnya keluarga ini kepada kami. Maafkan kami yang telah membohongi kalian, kami berjanji akan bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas semua hal yang pernah kami lakukan”.

Dari uraian di atas bisa kita simpulkan, bahwa barokah atau berkah itu datangnya dari Allah, bukan karena apa ataupun siapa, karena tak ada satupun makhluk yang dapat memberi barokah kecuali dengan izin Allah. Dari uraian di atas juga, terbukti hadits qudsi yang berbunyi

انا عندَ ظَنَّ عبدي بي

Aku sesuai prasangka hambaKu kepadaKu.

 Berhusnudzonlah selalu kepada Allah, maka kamu akan mendapatkan apa yang kamu sangka kepadaNya.

Untuk mendapatkan berkah tentu banyak sekali caranya, diantaranya membaca basmalah setiap memulai suatu kegiatan, dalam hadis disebutkan

 كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ب-بسم الله الرحمن الرحيم فهو اقطع و ابتر

Setiap perkara yang mempunyai nilai kebaikan yang tidak diawali dengan bacaan basmalah maka terputus leberkahan atau sedikit berkahnya,

jika ingin mengambil berkah dari peninggalan kita bisa mencium benda tersebut dengan niat tabaruk bukan bermaksud syirik, jika ingin mengambil berkah dari tempat bisa dengan mengunjungi tempat tersebut dan berdoa di dalamnya, jika ingin mengambil berkah dari orang bisa dengan menghormatinya.

            Sebagai santri tentu saja butuh sekali terhadap keberkahan ilmu. Santri akan mendapatkan ilmu yang berkah dengan cara mengikuti pelajaran dengan seksama, mengoormati guru, taat peraturan pesantren, membantu kiai atau guru, membersihkan rumah kiai atau guru, dan lain sebagainya. Hal ini juga tidak hanya berlaku untuk santri melainkan untuk seluruh pelajar yang ada di dunia.

Namun di zaman sekarang ini sudah banyak pelajar yang tidak pernah berusaha mendapatkan keberkahan ilmu. Banyak pelajar yang jika dihukum melapor ke polisi, mengancam gurunya, bahkan ada seorang pelajar yang mebunuh gurunya sendiri, naudzubillahi mindzalik. Semakin menurun hormat pelajar terhadap gurunya, dan karena itu pula semakin banyak orang yang bergelar tinggi bahkan sampai profesor tapi ilmunya tidak berkah sama sekali, apa maksudnya tidak berkah?

Banyak orang yang bergelar tinggi namun akhlaknya kurang baik, hidupnya tidak sejahtera, keluargaya hancur, itu semua bisa saja terjadi karena suatu ilmu yang tidak berkah, tidak bisa mengamalkan semua ilmu yang telah dipelajarinya, dia hanya bisa menghafal semua ilmu tersebut, padahal manusia tempat lupa, sebanyak apapun hafalan pasti akan lupa. Sedangkan ilmu yang barokah meskipun lupa tapi ilmu itu tertanam di dalam hati.

Banyak dampak berkah yang akan dirasakan dalam kehidupan. Diantara dampak tersebut seperti meningkatnya ketaatan kepada Allah, mudahnya medapatkan sesuatu yang diinginkan, mendapatkan pahala lebih tersendiri dari suatu amal tersebut, menjadikan yang sedikit terasa cukup dan mencukupi, bahkan keberkahan dapat membuat seseorang bahagia dunia dan akhirat. Oleh arena itu, betapa pentingnya keberkahan dalam kehidupan, karena tanpa berkah suatu amal yang bernilai kebaikan tidak akan menghasilkan pahala lebih, melainkan hanya capainya saja.

PENULIS : Syarah Syaghifah Raakillah XII MAK 2

By Ayi Nur