fbpx

Judul buku : Di Bawah Langit Madani
Penulis : YF Rijal
Penerbit : Grasindo
Jumlah halaman : V+226 halaman
Isbn : 978-602-375-044-4
Cetakan : Juni, 2015

Rijal, menulis novel “Di Bawah Langit Madani” berdasarkan kisah nyata ketika dia SMA. Penolakan yang berujung kesuksesan membuatnya ingin kembali mengenang perjalanan hidupnya.

Bersama 5 sahabat karib, ia pun bisa mewujudkan satu kenyataan yang sedari dulu dibantahnya. Sebab, cerita ini pula, aku memilih buku ini sebagai resensi. Bukan hanya menginspirasi, buku ini juga menggambarkan keseharianku. Sebuah asrama yang bertempat di Meukek-Aceh, menjadi awal mula kisah “Di Bawah Langit Madani”.

Tidak ada yang menyangka, bahwa pertemuan Fir, Iman, Rido, Sandi, dan Teuku menjadi tombak ukur atas kesuksesan Asrama Insan Madani. Dengan dibuatnya sebuah perjanjian yang dinamai prasasti 5.

Mereka membuktikan bahwa menjadi minoritas bukanlah suatu alasan untuk menyerah. Mereka juga membuktikan bahwa sebuah pepatah yang menyatakan usaha tidak akan mengkhianati hasil memang benar. Banyak sekali hal yang didapatkan sejak kumulai membaca, termasuk cerita yang menginspirasi dan kusebut sebagai salah satu kelebihan dari novel ini.

Bukan hanya menginspirasi remaja Islam, dengan kebersamaan, kesetiaan, kekeluargaan juga sangat kental dengan keharuan dalam mencapai perjuangan.

Alur dan konflik yang ringan pun membuat novel karya YF Rijal ini dapat dibaca oleh seluruh kalangan. Di sini, kita juga dapat mengetahui berbagai dalil Al-Qur’an ataupun hadis dari sebuah hukum. Mengingat, penulis juga beberapa kali menyangkutkan beberapa obrolan dan cerita dengan dalil-dalil Rasulullah. Sehingga, secara tidak langsung kita dapat belajar hadis.


Selain itu, berbagai kosakata Aceh pun bertebaran hamper di setiap halaman. Penulis juga tidak ketinggalan untuk mencantumkan arti dari masing-masing kosakata tersebut. Sehingga kita dapat memahami dan belajar bahasa baru dengan mudah dan cepat. Hematnya, selain menikmati asyiknya membaca novel juga bisa belajar bahasa Aceh secara gratis.


Namun, tenyata sesuatu yang sangat baik pun belum tentu sempurna. Sebab, terdapat kalimat sumbang pada beberapa paragraf membuat cerita sedikit ambigu. Contohnya terdapat pada halaman 49 ‘keempat kami serempak mengubah arah pandang’. Seharusnya, penulis tidak perlu menggunakan kata ‘keempat’ karena kata ‘kami’ juga sudah menunjukkan bentuk jamak. Beberapa kali juga penulis tidak mencantumkan arti dari kosakata berbahasa Aceh. Hal ini meskipun sepele, tetapi sangat menganggu. Sebab, pembaca dibuat bingung dan sibuk untuk mencari tahu arti kosakata tersebut.


Selanjutnya, ending yang tidak memuaskan pun membuat cerita menjadi biasa saja. Sebab, pada bagian ending, penulis hanya menceritakan ketika mereka menjadi panitia penerimaan peserta didik baru yang ternyata sangat tidak sesuai dengan ekspetasi. Sehingga buku ini kurang cocok untuk pembaca yang menyukai konflik yang berat.


Namun, tidak usah khawatir “Di Bawah Langit Madani” sangat cocok untuk remaja yang ingin berhijrah dan mendalami ilmu agama. Sebab, berisi kalimat-kalimat yang sangat memotivasi. Harga yang ramah di kantong pun menjadi alasan lain bahwa novel ini sangat layak untuk dibeli.

PENULIS : Nazwa Zein (XI BAHASA)

By Ayi Nur